Karir dan Pekerjaan Selama di Tiongkok/Cina

Awal kedatangan aku ke Tiongkok memang sempat memikirkan bahwa setelah aku lulus dari masa perkuliahan, aku akan melanjutkan perkembangan karir di Tiongkok. Ada banyak perbedaan atau benefit yang kita bisa dapatkan apabila bekerja di luar negeri seperti pada umumnya perspektif yang dimiliki oleh kebanyakan orang. Namun mungkin untuk kesan maupun perspektif yang dimiliki oleh kebanyakan orang mengenai bekerja di Tiongkok bukanlah sesuatu yang umum dan sedikit orang tidak melihat Tiongkok adalah sebagai tujuan melanjutkan pendidikan maupun bekerja.

Oleh karena itu aku akan coba memberikan beberapa perspektif mengenai kesan dan pengalaman pribadi seputar memulai karir dan menjalani hidup di Tiongkok. Sebelum masuk kepada keberlangsungan keseharian aktivitas pekerjaan, ada baiknya kita menimbang dulu sebenarnya apa sisi positif dari bekerja di Tiongkok.

Pertama-tama, Tiongkok adalah negara yang sangat luas. Dengan luasan dataran yang sangat besar, hal ini menjadikan Tiongkok sesungguhnya dapat “menampung” banyaknya populasi dalam negeri maupun orang asing yang datang ke Tiongkok. Hal ini merupakan modal atau kenyataan utama yang perlu diketahui bersama. Dengan luasan wilayah yang luar biasa, otomatis dapat menjadi modal utama pula bagi Tiongkok untuk menggunakan segala sumber daya yang dimiliki guna menjalankan roda perekonomian.

Hal selanjutnya yang perlu diketahui mengenai luasnya daratan di Tiongkok adalah kemajuan dari daerah-daerah yang notabenenya tidak terlalu banyak diketahui oleh khalayak pada umumnya. Adapun yang dimaksud adalah ketika kita melihat perbandingan di Tanah Air, pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nampaknya masih sangat berpusat pada kota-kota utama. Sejak pertama kali aku belajar mengenai pertumbuhan ekonomi di Sekolah Menengah Atas, nampaknya kota-kota tersebut masih mempertahankan status quo sebagai kota dengan pertumbuhan yang dapat dibilang cukup signifikan. Dalam hal ini, Hong Kong dan Taiwan yang masih merupakan wilayah Tiongkok juga perlu dipahami konteksnya. Walaupun memang untuk urusan administratif atas Hong Kong dan Taiwan berbeda dengan bila kita berbicara mengenai Tiongkok daratan (Mainland).

Adapun mengenai Tiongkok sendiri, banyak sekali kota-kota yang sudah memiliki tingkat pertumbuhan yang direkayasa sedemikian rupa sehingga dapat memiliki kemajuan yang pesat dan dapat menunjang segenap banyaknya manusia yang hidup di negara ini. Salah satu kunci keberhasilan dari kemajuan perekonomian Tiongkok adalah sistem perekonomian yang memiliki dampak pada kepastian kebijakan-kebijakan yang berkenaan erat dengan perekonomian. Dengan kepastian pada kebijakan-kebijakan tersebut, membawa pertumbuhan ekonomi pada arah yang dapat lebih mudah diprediksi. Hal ini penting mengingat bahwa dengan prediksi perekonomian, hal ini akan membawa ketenangan dan kepastian mengenai status perekonomian. Hal ini juga berkenaan erat dengan gairah perekonomian yang sumber-sumber modalnya berasal baik dari domestik maupun internasional. Namun pada ulasan kali ini, aku tidak akan terlalu banyak menyinggung soal teori-teori ekonomi karena ini bukanlah kebisaan utama pada diriku.

Kembali kepada pertumbuhan kota-kota di Tiongkok, aku pribadi sudah cukup lama tinggal di Tiongkok dan bepergian ke beberapa tempat. Untuk lokasi-lokasi yang pernah aku singgahi, terlihat bahwa kemajuan perekonomian di Tiongkok itu nyata. Di dalam benakku berpikir, kalau lah di Indonesia, mungkin kota-kota yang terlalu jauh dengan Ibu Kota tidak akan memiliki pertumbuhan yang dapat terlihat secara signifikan. Namun Tiongkok memang memiliki kelebihan untuk merekayasa itu semua.

Hal yang dimaksudkan dengan rekayasa di sini adalah bukanlah dimaksudkan untuk merujuk pada perekayasaan yang dilakukan terhadap data-data perekonomian maupun kesan sengaja yang ditimbulkan agar dunia luar maupun orang-orang yang datang ke Tiongkok hanya melihat bahwa negara mereka sepenuhnya baik atau pertumbuhan ekonomi di mana-mana, bukan itu maksudnya. Rekayasa di sini adalah dalam artian bahwa pemerintah Tiongkok sebagai aktor utama dari penentuan kebijakan-kebijakan dan pemiliki otoritas tertinggi sebagai “pelaksana negara” memasukkan segenap proses yang sangat bersinggungan langsung dengan intervensi terhadap pasar dan aktivitas-aktivitas perekonomian. Berbeda dengan negara-negara yang menganut ideologi berbeda dengan Tiongkok dimana pasar memiliki kebebasan dan bahkan nyaris tidak ada intervensi apapun dari pihak pemerintah.

Hal lain yang dapat diketahui dengan kemajuan yang ada di Tiongkok juga dikarenakan kepada penerapan dari municipal city atau yang dulu sempat ada di Tanah Air yang dikenal dengan Kotamadya. Kalau aku tidak salah, Kota-kota Madya di Tiongkok ini ada sekitar 4 kota yang tersebar di bagian Utara, Timur, Tengah, dan Barat Tiongkok. Kota-kota Madya ini memiliki karakter khas yang langsung dibawah koordinasi dari pemerintah pusat, sehingga aktivitas-aktivitas perekonomian di kota-kota tersebut tidak memiliki hambatan berarti dalam artian perencanaan, penetapan, dan evaluasi kebijakan-kebijakannya.

Kota-kota tersebut misalkan Beijing, Tianjin, Shanghai, dan Chongqing. Adapun mengenai signifikansi dari Kota-kota Madya ini adalah: Beijing, merupakan Ibu Kota yang dimana pusat pemerintahan berada, sehingga status sebagai Kota Madya ini tentu akan melekat langsung dengan Beijing. Tianjin, merupakan kota dimana memiliki pelabuhan ekspor-impor utama yang penting. Sehingga urgensi Kota Tianjin memiliki status sebagai Kota Madya juga melekat agar proses masuk-keluar nya barang yang berhubungan dengan perekonomian Tiongkok dapat lebih mudah dikoordinasikan. Selain itu Kota Tianjin juga merupakan kota satelit bagi Beijing yang menjadi alternatif bagi sesiapa yang merasa bahwa Beijing sudah dirasa terlalu padat atau memiliki ongkos hidup yang sudah tinggi. Kota Tianjin menawarkan alternatif kota yang tidak se-padat Beijing dan memiliki rata-rata ongkos hidup atau harga barang-barang kebutuhan keseharian yang lebih rendah dibandingkan Beijing. Shanghai, merupakan kota yang sedari dahulu merupakan kota dengan aktivitas perekonomian, terutama ekspor-impor, yang sangat signifikan. Banyak dari delegasi-delegasi dagang negara-negara asing dulunya lebih menyukai untuk merapat dan berdagang di Shanghai. Di kota ini juga terdapat pelabuhan penting untuk ekspor-impor sehingga juga memiliki koordinasi langsung dengan melekatnya status sebagai Kota Madya. Kota Chongqing (dibaca: cong-cing) merupakan Kota Madya dengan terobosan yang juga hasil dari rekayasa perekonomian di Tiongkok guna menunjang pertumbuhan/pembangunan di daerah non-pesisir Timur Tiongkok. Bagi masyarakat Tiongkok sendiri, Kota Chongqing ini dikenal sebagai “Gerbang ke Barat” yang artinya perekonomian dibuka ke arah sebelah Barat Tiongkok dengan Kota Chongqing sebagai prioritas utama.

Ketika aku menempuh studi s-2 di Beijing, salah satu profesor di kelas menjelaskan bahwa Tiongkok menerapkan pertumbuhan perekonomian dari Timur ke Barat. Hal ini berarti sejak awal berdirinya negara Tiongkok, perekonomian masih berkonsentrasi pada daerah-daerah pesisir. Perlu diingat bahwa daerah-daerah pesisir ini tidak serta-merta dapat diartikan pada kota-kota atau daerah-daerah yang memiliki garis pantai maupun pelabuhan laut langsung, namun juga kota-kota di sekitarnya masih termasuk kedalam kategori “Pesisir Timur”. Hal yang dimaksudkan adalah pertumbuhan perekonomian bergeser secara bertahap dari daerah-daerah yang berada di Pesisir Timur menuju ke daerah Barat. Contoh riil dari penerapan kebijakan ini adalah dengan hadirnya sarana dan prasarana dalam hal infrastruktur penunjang perekonomian di kota-kota sebelah Barat Tiongkok yang sama ketersediaannya dengan yang ada di Pesisir Timur. Terutama dalam hal transportasi yang tercermin dari pembangunan fasilitas kereta cepat di daerah Barat Tiongkok. Dalam hal ini sangat jelas terlihat perbedaan apabila membandingkan dengan apa yang terjadi di Tanah Air dimana daerah Barat notabenenya memiliki status quo sebagai “sentra pertumbuhan nasional”.

Sederhananya, pertumbuhan ekonomi suatu lokasi akan memiliki efek sebar (trickle down effect) kepada daerah di sekitarnya. Hal ini tentu akan menambah gairah dan sebagai pemicu pertumbuhan dari daerah-daerah yang tadinya tidak memiliki aktivitas ekonomi yang cukup signifikan. Dengan begitu, Kota-kota Madya yang telah aku sebutkan juga memiliki peranan sebagai penyebar pertumbuhan dengan efek sebar tadi yang manfaatnya akan terasa secara lebih luas lagi.

Tentu saja selain kota-kota yang telah aku sebutkan diatas, masih banyak lagi kota-kota dengan signifikansi pertumbuhan yang tidak bisa dilihat sebelah mata. Kota-kota seperti Shenzhen, Guangzhou, Dalian, Harbin, Qingdao, dan lain-lain juga memiliki percepatan pertumbuhan yang luar biasa mengingat kota-kota tersebut juga jauh dari Ibu Kota.

Kaitannya dengan pembahasan karir dan pekerjaan di Tiongkok, sebagai orang asing, kita akan melihat bahwa peluang untuk mendapatkan pekerjaan di Tiongkok itu sangatlah besar, tidak hanya  terbatas pada Kota Beijing maupun kota-kota yang lebih familiar untuk didengar karena pemasarannya ke luar memiliki intensitas lebih.

Hal terpenting juga yang dapat menjadi perhatian adalah penentuan lokasi tujuan untuk berkarir di Tiongkok sangatlah penting. Di Tiongkok sendiri dikenal dengan pembagian kota-kota berdasarkan “level” nya. Pengkategorian ini sesungguhnya adalah bahasa yang tidak secara resmi datang dari Tiongkok, tapi memang di seluruh dunia juga digunakan. Istilah Tier dalam mengidentifikasi kota-kota di seluruh dunia yang berguna untuk menilai potensi dan arah perekonomian membuat para aktor ekonomi baik pemerintah maupun swasta, domestik maupun asing dapat lebih mudah mengidentifikasi. Penyertaan Tier ini biasanya dengan penggunaan angka, 1 sampai 4 dengan angka 1 menunjukkan status yang paling baik. Kota-kota yang masuk kedalam kategori Tier 1 kebanyakan sudah dikenal oleh khalayak kebanyakan, antara lain Beijing, Shanghai, Tianjin, Shenzhen, Guangzhou, Suzhou, dan sebagainya. Kota dengan kategori Tier 1 ini menjanjikan peluang yang lebih besar bagi orang asing untuk mendapatkan pekerjaan dibandingkan dengan kota-kota dengan peringkat Tier 2, 3, dan 4. Selain peluang, perkara gaji yang akan diterima lebih tinggi apabila kita bekerja di kota-kota yang terkategorikan sebagai Tier 1.

Sebagai gambaran, kota-kota dengan kategori Tier 1 biasanya menawarkan gaji yang berkisar antara 10 – 12 juta Rupiah bagi mereka yang baru lulus dari perkuliahan, dan menyentuh angka yang lebih dari itu kalau kita sudah memiliki pengalaman bekerja sebelumnya. Bahkan, ketika memulai untuk magang, gaji yang ditawarkan untuk anak magang juga bervariasi dari 5 – 10 juta Rupiah. Walaupun memang gaji tersebut juga harus dikelola secara baik sehingga ongkos hidup tidak melampaui pemasukan bulanan yang kita terima. Salah satu elemen termahal dari ongkos hidup di Tiongkok (juga negara-negara lain) adalah tempat tinggal. Di Beijing misalnya, harga sewa flat kamar berkisar antara 4 – 8 juta rupiah per bulan, bahkan lebih. Oleh karena itu ketika memutuskan akan bekerja dan tinggal dalam tempo yang cukup lama di Tiongkok, ongkos hidup perlu dipertimbangkan baik-baik.

 

Namun, ongkos hidup ini diasumsikan masih lebih murah dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Jepang dan Korea Selatan yang untuk keseharian bisa memakan pengeluaran dua kali lipat dibandingkan Beijing, misalnya.

 

Untuk biaya kebutuhan pangan dan lainnya bergantung pada karakter masing-masing individu. Orang Tiongkok lokal sendiri dapat hidup dengan pengeluaran hanya 2 – 3 juta Rupiah per bulan. Hal ini juga dikarenakan budaya hemat dan super irit yang mereka miliki yang menjadi kekhasan masyarakat Tiongkok. Proporsi pengeluaran sangat bergantung pada kebiasaan pengelolaan anggaran pribadi, terutama untuk keperluan-keperluan yang berkaitan dengan kesenangan maupun hiburan.

Selain masalah Tier, tentu saja ada hal-hal prasyarat yang menjadikan kita bisa masuk ke dalam bursa kerja di Tiongkok. Salah satu hal tersebut adalah kemampuan Bahasa Mandarin. Sebenarnya hal ini bukanlah hal yang aneh dan luar biasa. Apabila kita ke negara-negara yang mayoritas penduduknya tidak menggunakan Bahasa Inggris sebagai alat utama, maka kita sebagai orang asing paling tidak harus memiliki kemampuan dasar berbahasa di negara tujuan tersebut. Apabila kita ingin berkuliah maupun bekerja di Jepang, umumnya kampus maupun lokasi pekerjaan kerap menentukan persyaratan kemampuan Bahasa Jepang dengan nilai kemampuan tertentu. Begitu pula kalau kita ke Jerman, Perancis, Brazil, dan seterusnya.

***

Mempelajari Bahasa Mandarin memang tidak mudah, karena itu merupakan bahasa asing baru (setelah Bahasa Inggris) yang akan kita pelajari. Banyak metode yang bisa digunakan untuk menguasai Bahasa Mandarin, tetapi yang paling baik memang datang ke Tiongkok untuk khusus belajar agar penguasaan kemampuan berbahasa bisa menjadi lebih ajeg.

Memandang Bahasa Mandarin tidak ubahnya dengan bahasa-bahasa asing lainnya. Bahasa Indonesia juga merupakan ‘Bahasa Asing’ bagi orang-orang yang tidak menggunakan Bahasa Ibu kita sebagai alat komunikasi utama. Bahasa sesungguhnya hanya lah alat yang bisa juga dianalogikan penggunaannya seperti kendaraan, komputer, pena, telepon genggam, dan sebagainya. Untuk menguasai penggunaan sebuah alat, tentu kita perlu mempelajari bagaimana cara menggunakannya. Tidak ada anak yang baru saja dihadiahi sepeda lantas bisa langsung mengendarai sepeda tersebut detik kedua setelah sepeda tersebut menjadi miliknya. Tidak pula seorang yang baru saja memiliki sebuah telepon genggam pintar langsung serta-merta dapat mengoperasikan atau memiliki kemahiran untuk menggunakan telepon genggam tersebut detik kedua setelah ia melakukan pembayaran di toko; segala hal yang berurusan dengan penguasaan penggunaan alat pasti memerlukan waktu dan proses untuk menjadi mahir.

Penggunaan Bahasa Mandarin sebagai sebuah alat akan menjadi sangat berguna dan positif apabila kita mengetahui cara menggunakannya, dan memiliki tujuan yang jelas arah kebermanfaatan dari penggunaan alat komunikasi yang satu ini.

Kondisi riil yang akan kita temukan di perusahaan-perusahaan yang berada di Tiongkok adalah mereka sangat sedikit menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa formal untuk lingkungan pekerjaan. Berbeda mungkin dengan di Indonesia yang mengharuskan pelamar pekerjaan di perusahaan-perusahaan besar untuk fasih berbicara dengan menggunakan Bahasa Inggris. Di Tiongkok, walaupun notabenenya perusahaan tersebut adalah perusahaan multi-nasional—yang artinya beroperasi di banyak tempat di seluruh dunia—tapi mereka masih menggunakan Bahasa Mandarin sebagai bahasa formal untuk lingkungan pekerjaan. Kecuali untuk perusahaan yang merupakan cabang atau anak dari perusahaan asing, maka penggunaan Bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya dapat menjadi standar tersendiri.

Namun, bukan hanya kebisaan yang direpresentasikan dengan telah lulus Tes HSK dengan level tertentu, tapi juga terbiasa mendengar logat maupun cara pelafalan orang lokal. Kerap kali walaupun sudah lulus level tertinggi dari Tes HSK, kita masih cukup sulit untuk mengerti apa yang orang lokal bicarakan; pelafalan yang beragam juga dikarenakan jumlah etnis di Tiongkok yang sangat banyak, yang membuat mereka juga memiliki aksen yang tidak sama.

Bahasa Mandarin merupakan bahasa yang menggunakan ‘karakter’ dan ‘radikal’ sebagai pengganti alfabet. Tidak dikatakan alfabet karena satu ‘karakter’ umumnya mewakili satu kata. Tidak seperti alfabet yang tersusun dari beberapa huruf baru bisa membentuk sebuah kata.

 

Bahasa Mandarin memiliki tingkatan kebisaan yang sekarang digunakan Level I – VI. Singkatnya, Level I – III adalah kemampuan sangat dasar mengenal ‘karakter’ dan pelafalan; Level IV merupakan tingkatan “cukup” yang membuat kita bisa sudah dapat berkomunikasi menggunakan Bahasa Mandarin namun masih sangat terbatas. Untuk bisa dikatakan “mahir” dalam berbahasa Mandarin, kita paling tidak harus bisa lulus Level V; dengan Level VI kebanyakan digunakan oleh mereka yang akan menempuh kuliah dengan menggunakan Bahasa Mandarin, penelitian ilmiah dengan Bahasa Mandarin, maupun mereka yang akan memiliki perencanaan karir dan tinggal yang lama di Tiongkok. Untuk pekerjaan, paling tidak kita harus memiliki modal lulus Level V. Nama formal dari tes Bahasa Mandarin dikenal dengan Tes ‘HSK’.

Kondisi selanjutnya yang berkaitan dengan kemampuan berbahasa adalah ketika kita sedang berkomunikasi di dalam lingkungan pekerjaan. Ketika berkomunikasi dengan rekan kerja yang sebaya kita mungkin bisa menggunakan bahasa yang berasa lebih santai dan tidak perlu terlalu formal. Dalam posisi ini, ‘sebaya’ berarti orang-orang atau rekan-rekan kerja yang bukan berada di posisi (struktur) atas vertikal kita, walaupun perbedaan usia kita dengan satu rekan kerja agak jauh (tua atau muda) namun masih dalam satu posisi horizontal yang sama, maka tidak menjadi soal untuk bergaul atau berkomunikasi dengan bahasa-bahasa yang santai. Namun hal ini sangat berbeda dengan ketika berbicara atau berkomunikasi terhadap orang-orang yang memiliki posisi (struktur) vertikal lebih tinggi dari kita. Seperti yang terjadi di negara-negara lain semacam Jepang, Korea Selatan, bahkan di Indonesia sendiri, ada tata krama yang harus diperhatikan terutama penggunaan pemilihan kata yang lebih formal.

Hal yang paling masuk akal untuk mencari pekerjaan di Tiongkok adalah ketika kita sedang berada di Tiongkok, umumnya karena kita sedang berkuliah atau menempuh studi Bahasa Mandarin. Bekerja di Tiongkok memang tidak semudah atau seleluasa ketika membandingkan dengan negara-negara lain semacam Singapura, Malaysia, Australia, bahkan Amerika Serikat sana. Proses pemberian visa bisa dibilang juga memiliki aturan-aturan dan persyaratan yang lebih ketat. Masa berlaku sebuah visa, apalagi visa bekerja, hanya berlaku untuk kurun satu tahun yang bisa diperpanjang berdasarkan masa kontrak kerja. Adapun untuk visa studi bisa langsung untuk mendapatkan masa berlaku yang lebih panjang antara 2 – 4 tahun bergantung pada kurun admisi lama tempuh studi.

#nfglobalhub

#nurulfikri

#studyabroad

#studytochina

#learnmandarin

#chineselanguage

#thinkglobal

#improveskill

#dayatawarkompetensi

#workinchina

#expatindonesia

#pengalamankerjaluarnegeri

#workabroad

#wholenewlevelchallenge

Leave a comment