Ilustrasi yang bisa aku gambarkan mengenai dunia pekerjaan di Tiongkok mungkin akan sangat berbeda dengan apa yang terjadi di Indonesia. Selain mengenai kemampuan berbahasa Mandarin, hal lain yang kita perlukan untuk mendapatkan pekerjaan di Tiongkok tentu saja masalah kemampuan (skill). Hal ini menjadi penting mengingat bisa dikatakan sangat sedikit perusahaan-perusahaan di Tiongkok yang menawarkan pelatihan-pelatihan untuk pegawai/staf yang baru bergabung dengan suatu perusahaan. Entah dari mana asal-muasal kebiasaan ini, namun ini juga bisa dikarenakan perbedaan yang lumayan mencolok mengenai tupoksi bagian HRD/Personalia di Tiongkok dengan yang terjadi di negara-negara lain.
Dengan begitu, banyak sekali kasus dimana ketika seorang staf melakukan suatu kesalahan, mereka akan langsung dibimbing oleh supervisi yang bertanggung jawab terhadap para pegawai baru. Jadi memang sangatlah penting untuk menginformasikan apa kebisaan terbaik kita ketika sedang menghadapi proses seleksi atau wawancara untuk pekerjaan. Namun tentu saja, mereka (perusahaan) memiliki budaya maklum terhadap para pegawai baru, tidak begitu kaku.
Umumnya kesalahan-kesalahan yang akan dibuat oleh para pegawai baru asing adalah seputar penguasaan Bahasa Mandarin dan budaya kerja. Bahasa Mandarin merupakan bahasa dengan dalaman konteks yang sangat banyak. Sehingga dapat dikatakan wajar apabila kesalahan-kesalahan itu terjadi. Misalnya, pada lembar absensi pegawai atau kontak informasi pegawai, mereka tidak akan menuliskan status jenis kelamin di dalam tabel. Hal ini sangat menyulitkan khususnya bila kita baru memahami Bahasa Mandarin dan/atau memulai pekerjaan di perusahaan Tiongkok. Dengan begitu ketika kita ingin berkomunikasi seseorang dengan hanya melihat kontak informasi dari lembaran tabel absensi pegawai, maka kita perlu untuk menanyakan kepada kolega lain apakah beliau itu pria atau wanita. Hal ini juga akan dapat ditemukan ketika kita berkomunikasi atau bekerja di negara-negara yang tidak menggunakan Bahasa Inggris atau aksara latin untuk alat komunikasi sehari-hari nya.
Konteks penggunaan Bahasa Mandarin ini juga perlu memerhatikan struktur kerja dalam perusahaan tersebut. Hal ini menurutku dikarenakan tidak adanya rujukan baku bagi pelaksanaan manajemen perusahaan-perusahaan di Tiongkok. Sehingga kita selain mengerti penggunaan Bahasa Mandarin sebagai penerjemahan, juga perlu mengerti konteks posisi dalam struktur SDM suatu perusahaan. Tidak jarang juga ditemukan bahwa deskripsi kerja/tanggung jawab kerja yang ada tidak sesuai dengan aplikasi atau realita yang ada di keseharian pekerjaan. Sering sekali ditemukan bahwa seseorang memiliki 1 posisi dapat melakukan 2 atau 3 tanggung jawab sekaligus. Mungkin hal ini juga dapat kita perjelas ketika sedang menempuh wawancara maupun mengetahui karakteristik budaya perusahaan dari pengalaman orang-orang yang pernah bekerja di perusahaan tersebut atau sedang bekerja di Tiongkok.
Tentu saja hal selanjutnya yang harus diperhatikan adalah prosedur-prosedur standar (SOP) perusahaan yang berlaku. Hal-hal yang terkait mengenai absensi, penyimpanan file, penggunaan kendaraan kantor, reimbursement, asuransi dan sebagai nya bisa kita tanyakan di awal sebelum masuk ke perusahaan atau di awal masa bekerja.
Sesungguhnya ada 2 kondisi untuk menjelaskan konteks dan karakteristik bekerja di Tiongkok. Kondisi pertama adalah ketika kita sudah sebelumnya melalui masa studi atau tinggal di Tiongkok dalam waktu yang berbeda. Kondisi pertama ini memungkinkan bagi individu untuk paling tidak mengetahui karakteristik-karakteristik dasar orang-orang Tiongkok. Sehingga ketika kita sedang memiliki aktivitas di lingkungan pekerjaan, kita tidak lagi kaget dengan sikap dan pembawaan kolega-kolega di kantor.
Kondisi ke dua adalah dimana kita sebelumnya mungkin hanya pernah berkunjung beberapa kali ke Tiongkok untuk pariwisata atau kunjungan lain yang tidak menetap. Ketika kita berada dalam kondisi ke dua, maka ada beberapa penyesuaian yang tentu saja perlu kita ketahui.
Setelah kita telah sebelumnya melewati segenap proses seleksi yang agak tidak biasa, ada beberapa hal lain yang kita akan menemukan perbedaan. Hal yang paling penting untuk disadari dan dilakukan adalah agar kita tidak terkaget-kaget dan tidak mematok ekspektasi apapun terhadap rekan kerja. Hal-hal baru yang akan kita hadapi membutuhkan penyikapan yang tenang dan tidak terlalu reaktif. Sikap was-was dan reaktif justru akan membuat kolega kita juga bersikap tidak biasa. Sebagaimana lokasi baru yang kita akan beraktivitas di dalamnya, lebih baik kita menyiapkan ekspektasi terendah dari apa yang akan kita hadapi di aktivitas keseharian, terutama lingkungan pekerjaan.
Ketika kita masuk ke lingkungan kantor yang baru, tidak akan ada orang-orang yang menyambut kita secara ramah dan bersahaja—muka penuh senyum, jabatan tangan, maupun ungkapan-ungkapan empatik atas kedatangan kita di lingkungan yang baru. Barangkali kalau kita menggunakan “standar” atau kebiasaan-kebiasaan kita bercengkrama atau berinteraksi dengan rekan-rekan, terutama di lingkungan kerja, sikap-sikap yang dimiliki oleh kolega-kolega lokal Tiongkok akan sangat membuat kita tidak biasa.
Mungkin banyak orang yang merasa bahwa orang-orang yang tidak berjabat tangan di Tanah Air ketika pertama kali bertemu adalah orang yang sok suci atau sombong, namun ini merupakan hal yang biasa. Jangan mengharapkan mereka akan menyambut dengan raihan sambutan jabatan tangan dan kata-kata penyambut. Jangan pula mengharapkan akan adanya semacam sikap membungkuk seperti yang dimiliki oleh orang-orang di Jepang; atau terutama sambutan-sambutan khas Barat lain yang mungkin sempat kita ketahui sebelumnya.
Memang pada awalnya tidak mudah untuk memahami orang-orang Tiongkok. Bahkan untuk aku pribadi yang sudah cukup lama tinggal, studi, bekerja, dan beraktivitas, bisa dibilang cukup melelahkan dan membuat kita bertanya-tanya akan latar belakang segala sikap yang kita terima dari orang-orang Tiongkok lokal. Namun, satu hal yang perlu digarisbawahi adalah memahami apa yang terjadi dengan mereka bukanlah tugas kita. Sikap-sikap dan karakter tersebut merupakan hasil olah dan bentuk dari kebiasaan yang telah ter-asosiasi-kan sejak ribuan tahun. Sehingga tugas kita hanyalah bagaimana bisa menyesuaikan diri dan melaksanakan tugas-tugas pokok dari kedatangan kita di Tiongkok.
***
To be continued..
#nfglobalhub
#nurulfikri
#studyabroad
#studytochina
#learnmandarin
#chineselanguage
#thinkglobal
#improveskill
#dayatawarkompetensi
#workinchina
#expatindonesia
#pengalamankerjaluarnegeri
#workabroad
#wholenewlevelchallenge