Ramadhan di Beijing, di Tengah Musim Panas 17 Jam

[Seri konten lawas migrasi dari blog silat-tiongkok.tumblr.com]

Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah dan istimewa yang di tunggu-tunggu oleh kaum muslim di seluruh penjuru dunia. Berkahnya hingga bulan-bulan setelahnya dan meninggalkan jejak kisah yang akan selalu dikenang apalagi saya sebagai pelajar muslim Indonesia yang menuntut ilmu di Tiongkok yang terkenal komunis. Keinginan untuk menikmati masakan khas daerah Makassar  utamanya masakan Ibu saat sahur dan berbuka puasa adalah bagian dari kesan yang terlewatkan saat menjalani masa ramadhan di Negeri Tirai Bambu ini. Saya Bagus Ari Haryo Anugrah yang sedang mengambil kelas kedokteran di Capital Medical University, Beijing.

Sebenarnya Ramadhan kali ini merupakan Ramadhan yang kedua bagi saya di negeri rantauan tersebut. Situasi saat Ramadhan Pertama dan Kedua menurut saya tak jauh berbeda, yaitu banyaknya cobaan dan halangan yang akan dihadapi selama berpuasa disini. Cobaan dan Halangan apa yang dihadapi? Cobaan yang saya maksud adalah panjangnya jarak antara waktu shubuh dan maghrib, kurang lebih 17 jam. Kemudian Suhu panas yang menyengat  kurang lebih 32-39 derajat celcius  yang membuat rasa kering di tenggorokan dan terkadang menggoda dengan rasa haus . Di tambah lagi penduduk lokal yang dimana-mana selalu makan dengan jajanan khas-nya serta sebagian besar dari mereka khususnya kaum hawa hanya menggunakan sedikit pakaian (Rok mini, kaos oblong ).

Hari Pertama Puasa di Beijing, Saya ikut berbuka puasa di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) yang kebetulan undangan dari Bapak Duta Besar kepada Komunitas Pelajar Muslim di Beijing. Hidangan Pertama diisi makanan kecil seperti kue lopis, bakwan, air mineral dan kue khas Indonesia lainnya. Tidak ketinggalan Kurma dan teh sebagai pelengkap makanan yang memenuhi meja. Setelah mengisi kekosongan perut, saya dan teman-teman Komunitas Pelajar Muslim di Beijing beserta teman-teman KBRI lainnya mengadakan shalat maghrib bersama. Setelah shalat maghrib bersama, suara komando dari salah seorang staff KBRI yang merupakan koordinator buka puasa bersama untuk segera menuju Wisma KBRI yang kebetulan lokasinya tak jauh dari Aula Serba Guna KBRI tempat kita shalat bersama .

Di wisma KBRI, Ibu Duta Besar telah menunggu kedatangan kami semua. Kebetulan di waktu bersamaan, Bapak Duta Besar sedang ada keperluan di Jakarta sehingga sepatah kata disampaikan oleh Ibu Duta Besar untuk mewakili beliau yang kemudian mempersilakan kami semua untuk masuk ke segmen inti acara yaitu mencicipi masakan khas Indonesia . Ada Rendang, tempe, ikan, kerupuk, sayur-sayuran, sambal dan es buah. Semua-nya pun tersenyum lebar dan menikmati makanan yang telah disediakan. Menu kali ini menurut saya sangat spesial karena sangat sulit mendapatkan makanan khas Indonesia di negeri tiongkok ini. Kurang lebih satu jam menikmati santapan, jarum jam menunjukkan pukul 21.40 waktu setempat yang menandakan kami harus kembali ke Aula Serba Guna KBRI untuk melaksanakan shalat Isya bersama dan dilanjutkan dengan shalat tarwih bersama.

Rasa rindu dengan keluarga yang saya selalu alami akhirnya bisa terobati dengan berkumpul dan berbagi keceriaan bersama Komunitas Pelajar Muslim di Beijing beserta teman-teman KBRI. Sungguh pengalaman yang sangat berharga dan sangat berkesan . 🙂

Bagus Ari Haryo Anugrah, Bachelor of Medicine, Bachelor of Surgery ( MBBS ) in International School of Capital Medical University, Beijing, China

10/8/14

Leave a comment