
[Seri konten lawas migrasi dari blog silat-tiongkok.tumblr.com]
Sewaktu saya berkesempatan untuk menghadiri ‘Simposium dan Kongres IV Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok (PPI Tiongkok)’, saya sempat dibawa oleh rekan-rekan di Kota Chongqing untuk bersama-sama melaksanakan shalat Jumat. Rangkaian kegiatan besar tahunan PPI Tiongkok itu berlangsung sejak 8-10 Mei 2015, salah satu harinya bertepatan dengan hari Jumat.

Satu hal yang menarik dari Chonqing adalah karena populasi penduduk kotanya yang hampir menyentuh 30 juta jiwa (lebih banyak dibanding Beijing Sang Ibukota negara), tentu sangat mencengangkan bagaimana pemerintah kota municipality mengelola penduduk yang sedemikian banyaknya. Adalah suatu kewajaran bila penduduk yang banyak harus disertai dengan penyediaan sarana dan fasilitas sosial dan publik yang memadai.
Hal lain yang saya cermati sedikit mengenai Chongqing adalah topografi (kondisi fisik geografis) kota nya yang berbukit-berliku. Tidak seperti beberapa kota lain di Tiongkok yang pernah saya sambangi, kota Choqnging memiliki kontur daerah yang tidak lain seperti kota dan Kabupaten Bogor dan Kota Bandung dijadikan menjadi satu. Dengan tantangan geografis yang lumayan menantang, tidak serta-merta menjadikan Chongqing menjadi kota yang terbelakang, justru para ahli dan insinyur sipil menjadi tertantang untuk menjadikan Chonqging tidak kalah hebat dengan kota-kota municipal lainnya di Tiongkok.

Sekilas kota Chongqing, apabila dilihat di peta makaakan mendapatkan lokasi kota yang berada di sebelah Barat Daya Tiongkok. Berbeda dengan beberapa Kota Pusat Pertumbuhan lain Tiongkok yang berada disebelah pesisir Timur, Chongqing memang direncanakan sebagai “Pintu Gerbang” menuju bagian Barat Tiongkok dalam hal pemerataan ekonomi dan pembangunan. Bila dilihat di dalam peta, Kota Chonqing berbatasan dengan ibukota-ibukota provinsiseperti Chengdu, Kunming, dan Tibet.

Kembali pada pembahasan mengenai foto suasana shalat Jumat di Chonqging. Kemarin saya lupa untuk menanyakan apa nama masjid lokasi shalat Jumat ini. Namun kebanyakan nama masjid di Tiongkok merujuk pada nama daerah yang ada di lokasi masjid itu berdiri. Sejurus, nama masjid ini adalah Masjid Jiaochangkou, karena memang tepat sekali bersebrangan dengan pintu masuk subway–kereta bawah tanah (CRT) Jiaochangkou.

Bangunan fisik masjid ini (seperti yang terlihat dalam gambar) tidak ubahnya seperti bangunan gedung perkantoran biasa. Lokasi masjid ada di lantai 15, sedangkan di dalam gedung tersebut juga terdapat beberapa fungsi lainnya seperti hotel, ruang-ruang kantor, dan Asosiasi Muslim Kota Chongqing (yang sempat saya baca ketika akan menaiki lift menuju lantai masjid).

Ketika saya dan rekan-rekan tiba di lantai tempat masjid itu berada, masjid ini tidak ubahnya seperti lantai kosong yang dimodifikasi menjadi tempat ibadah. Pertama kali saya secara langsung melihat masjid yang ada di kota besar seperti Chongqing memiliki kondisi yang menurut saya agak memprihatinkan. Saya sendiri mencoba khusnuzon dalam memandang apa-apa yang terjadi di Tiongkok, terutama dalam hal perlakuan pemerintah Tiongkok terhadap praktek beragama penduduknya.
Bagaimana tidak, setelah saya sempat tanyakan kerekan-rekan Indonesia yang mengantar kami melaksanakan shalat Jumat, ternyata memang hanya ada satu masjid yang digunakan untuk melaksanakan shalat berjamaah di seantero kota yang total populasinya hampir 30 juta orang. Subhanallah.
Kondisi ini sangat berbeda dimana bila dibandingdengan kota-kota lain seperti Beijing, Shanghai, Guangzhou, Kunming, dan Tianjin yang memiliki masjid lebih dari satu, bahkan puluhan (di Beijing). Bahkan kota kecil seperti Tianjin memiliki masjid ‘yang berdiri di atas tanah’ yang saya sendiri menyebut masjid tersebut sebagai Masjid Agung Tianjin, dikarenakan bentuk fisiknya yang cukup besar dan terlihat cukup mumpuni untuk mengakomodasi kebutuhan para jamaah di Kota Tianjin. Apalagi dari yang saya dengar ada beberapa masjid lain di kota kecil seperti Tianjin di distrik Tanggu yang besarnya juga bisa dibilang rata-rata dengan besar fisik masjid yang dapat ditemukan di Indonesia. Namun pertemuan dengan Masjid Jiaochangkou ini merupakan kali pertama saya melihat fasilitas publik yang cukup memprihatinkan.
Namun pikiran-pikiran tersebut agaknya berubah ketika saya dan rekan-rekan memasuki lantai masjid yang mana terpampang beberapa poster proyek pembangunan masjid Chonqging yang memiliki besar lumayan danmerupakan masjid yang ‘berdiri di atas tanah’. Saya tidak ada gambar untuk visual rencana masjid tersebut karena ya itu hanya baru masih dalam tahap perencanaan. Hal ini bukan tidak beralasan. Selama 4 tahun belajar, bekerja,dan hidup di Tiongkok saya cukup sedikit-banyak mengetahui bagaimana pola pengaplikasian pengelolaan sumber daya (dalam hal ini tanah; planologi) di Tiongkok. Agaknya kurang feasible untuk membangun satu bangunan besar masjid ditengah kota Chongqing yang dari segi topografi tanahnya pun didominasi perbukitan. Otomatis hal yang terpikir kalaupun rencana itu akan terealisasi, maka pembangunan masjid akan digeser ke daerah perbatasan kota yang notabenenya jauh dari tengah kota.
Saya pribadi tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya melaksanakan shalat-shalat besar seperti Iedul Fitri dan Iedul Adha di kondisi fisik masjid yang kecil seperti itu. Ketika kemarin melaksanakan shalat jumat saja satu lantai masjid tersebut sudah penuh sesak diisi oleh para jamaah baik warga negara Tiongkok maupun asing berjejal di ruangan yang tidak terlalu besar itu.
Justru, perasaan yang membuncah saat itu adalah betapa beruntungnya saya yang selama ini tinggal di kota yang memiliki banyak masjid dan tidak memiliki permasalahan mengenai ‘overload’ nya kapasitas masjid terhadap jamaah. Astagfirullahaladzhim.
Penulis:
Fathan Asadudin Sembiring
S2 Program Master Bisnis Internasional UIBE, Beijing.
14/5/15