Pernikahan Tidak Butuh Glorifikasi

Paling tidak itu yang saya alami. Babab (panggilan sayang saya terhadap istri) mungkin setuju juga dengan statement di atas. Karena kebanyakan masyarakat kita memandang segala sesuatu lebih kepada seremonial nya, tak luput mengenai pernikahan. Padahal justru segala keseruan dan tantangan terjadi selepas hari H sah nya hubungan kita dengan lawan jenis di mata Agama dan Hukum Negara.

Mungkin sebagian besar masyarakat kita melihat pernikahan adalah rentetan dari foto-foto pranikah, pemilihan lokasi pernikahan, pemilihan busana, catering, dll. Tetapi kurang memikirkan esensi dari komitmen antara 2 orang yang memiliki banyak sekali perbedaan, tetapi pada akhirnya memutuskan untuk bersama.

Apalagi mungkin untuk mereka yang sudah terbiasa melalui proses pacaran, dalam urusan pernikahan itu sama sekali berbeda konsekuensi nya dengan pacaran yang semu. Perihal ini yang mungkin tidak menjadi suatu konten pendidikan berkeluarga secara merata di masyarakat kita. Data perceraian dan KDRT di masyarakat Indonesia pada umumnya juga sangat menyedihkan. Apakah itu mungkin karena mereka terlalu mengglorifikasi pernikahan mereka dulunya?

Bagi mereka yang masih mengglorifikasi seremoni-seremoni, itu dikembalikan kepada hak masing-masing. Tetapi jangan lupa justru setelah seremoni itu lah perjalanan sebenarnya dimulai. Secara tradisional masyarakat kita melihat bahwa laki-laki harus bisa mengarahkan semuanya yang berhubungan dengan rumah tangga terhadap sang istri. Namun, saya tidak demikian. Saya memilih dia untuk berkomitmen bersama karena ada hal-hal lain yang saya lihat itu ada pada dia, dan tidak ada pada saya. Saya tidak berminat dan berniat untuk mengubah kehidupannya. Karakter dia dan saya sudah sama-sama terbentuk sejak lahir. Tidak perlu dirubah.

Banyak mungkin lelaki yang merasa terpatron bahwa kita memiliki posisi yang paling tinggi. Tapi kenyataan nya tidak demikian di mata Tuhan, semua tergantung takwa, bukan kelamin atau tahun lahir. Bagi saya semua yang terpenting adalah persiapan dan rasa bersyukur.

Untuk para lelaki terutama, harus bisa masak. Bukan hanya masak yang sederhana saja. Karena tantangan selain ekonomi ya perut. Maksudnya, perut kita dan perut dia. Harus sama-sama dibikin enak. Terkadang barrier patron di masyarakat lah yang menghalangi sebuah skill sepele tapi sangat mengena di rumah tangga.

Bukannya saya pamer, tapi skill memasak saya alhamdulillah dapat terasah ketika 5 tahun berada di Cina. Yang mana dengan begitu alhamdulillah ketika istri sedang ngidam sesuatu, saya bisa dengan sigap membuatkan menu yang dia mau. Ya walaupun ada beberapa kekurangan dari segi rasa, karena saya bukan berprofesi sebagai chef, namun kepuasan, reaksi istri yang memakan masakan kita itu lah yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

Hal lain yang perlu diperhatikan sebagai laki-laki, adalah berhenti untuk memiliki pandangan untuk selalu dilayani oleh istri. Cukuplah mindset seperti itu ada pada orang tua kita, yang mungkin ketika mereka tumbuh dan menjadi pribadi dewasa dulu, nilai dan norma sudah tidak bisa diapa-apakan lagi. Tapi ketika ini sudah masuk tahun 2020, 2021, 2022, dan seterusnya, baiknya ada norma-norma baru sehingga laki-laki tidak menjadi sosok yang mengalap layanan. Justru karena laki-laki dianugerahi fisik yang lebih kuat dari wanita pada umumnya, harusnya bisa untuk misalnya menyiapkan sarapan sendiri, membuat kopi sendiri, menyeduh teh sendiri. Hal-hal sepele ini terkadang juga kita sebagai lelaki yang kurang memiliki empati dan sensitivitas. Padahal ini sangat berarti bagi istri kita.

Persiapan untuk terus-menerus adaptif terhadap perbedaan bentuk karakter tadi juga penting. Karena yang abadi adalah suatu transformasi itu sendiri (quote dari Maleficent II). Bukan manusia nya yang dipaksakan untuk berubah. Tapi cara merespon nya yang kadang tidak tepat, dan harus adaptif.

Pernikahan tidak butuh glorifikasi secara penerapan juga berkolerasi kuat dengan kelanggengan komitmen dua insan manusia tadi. Dengan tidak terlalu berfokus pada seremonial, niscaya menurut hemat saya, energi yang ada akan lebih banyak tersalurkan untuk menjalani dan menikmati proses. Terlebih lagi di banyak kenyataan di masyarakat Indonesia, seremoni pernikahan merupakan sesuatu yang sangat demanding, melelahkan, butuh biaya yang besar dan sebagainya. Sisakanlah sedikit energi dari tidak mengglorivikasi pernikahan tadi untuk kita dan pasangan kita.

Apalagi kalau misalnya banyak dari remaja yang mungkin melihat pernikahan itu adalah gerbang menuju sex yang halal. Well, kegiatan intercourse itu hanya 1 persen dari keseluruhan aktivitas yang akan kita lakukan bersama pasangan kita, baik suka maupun duka. Tidak jarang ketika kita menikah, malam pertama, malam kedua, seakan-akan kita seperti banteng liar yang baru keluar dari kandangnya. Tapi, di hari-hari berikutnya, di bulan-bulan berikutnya, kalau mindset yang digunakan memandang pernikahan itu adalah sebagai gerbang (hanya) menuju sex, maka kita salah besar.

Untuk kamu yang belum menikah, atau akan dalam waktu dekat ini menikah, atau bahkan masih berpacaran, ketahuilah bahwa marriage is a whole new world, pernikahan bukanlah kisah fiksi, pernikahan bukanlah kisah animasi Disney. Kalau kita bukan tipikal orang yang bersedia untuk setiap detik atau setiap menit belajar satu sama lain, saya bisa kasih saran untuk tunda dulu pernikahan yang mungkin sudah direncanakan.

Capailah dulu cita-cita masing-masing yang bisa dicapai. Karena kalau sudah memasuki dunia keluarga, menurut saya tidak ada cita-cita masing-masing, tapi cita-cita berdua. Terutama untuk pria yang sering merasa bahwa pendapatnya harus lebih dihargai, padahal tidak semuanya mesti begitu.

Terutama hal-hal mengenai pendidikan, karir, tabungan-tabungan pribadi. Kalau bisa dicicil terlebih dahulu. Buatlah target-target minimalnya. Jangan berasumsi bahwa semua ketika sudah menikah bisa dilakukan. Memang bisa, tapi ritme nya tidak semudah ketika masih belum menikah. Konsekuensinya jauh lebih besar.

Lakukanlah cara-cara yang diawali dengan musyawarah sebelum mencapai titik keputusan, demi kualitas pernikahan yang baik. Turunkan ego masing-masing dan selalu lah sadar bahwa masing-masing kita dan pasangan yang akan kita nikahi sama-sama memiliki kekurangan. Itu.

Leave a comment