Kalau dari pengalaman pribadi saya, saya sempat bekerja 1 tahun di Kota Tianjin, Cina. Banyak juga rekan-rekan yang merupakan lulusan luar negeri, terutama dari rekan-rekan PPI Dunia yang saya tau, memang menyempatkan untuk memperpanjang lama tinggal di luar negeri. Kondisi ini berbicara dalam konteks umum, terlepas dari ikatan beasiswa seperti LPDP dan sebagainya yang mewajibkan setiap beswan untuk kembali ke Indonesia segera setelah menyelesaikan perkuliahannya di luar negeri. Tapi kalau saran saya pribadi, memang lebih baik bagaimana pun caranya, setelah lulus, cobalah untuk merangsek memasuki bursa kerja di tempat kita mengenyam pendidikan.
Tapi, hal itu memang harus bisa disiasati selagi masa perkuliahan. Jadi, dulu saya ketika S2, yang terdiri dari 4 semester, saya memaksakan diri untuk mengambil semua SKS yang ada di 2 semester di awal. Sehingga 2 semester berikutnya saya tinggal fokus untuk berkutat dengan internship dan di sela-sela waktu saya mengerjakan tesis.
Internship umumnya berbeda dengan magang. Kalau magang pemahamannya adalah part-time semisal di restoran, mini market, bar, mall, dll. Tapi kalau internship umumnya di perusahaan yang memiliki tipe pekerjaan di belakang meja. Ada juga tipe internship misalkan di lab atau di lokasi-lokasi riset yang betujuan membantu supervisor tesis kita.
Di Cina sendiri, untuk melakukan part-time di lokasi-lokasi semacam restoran atau mini market seperti itu agak kurang memungkinkan, dikarenakan regulasi yang cukup ketat untuk mengalokasikan pekerjaan seperti ini untuk orang asing seperti kita. Tapi untuk rekan-rekan yang berkuliah di Eropa, Amerika, Australia, maupun negara-negara lainnya, kegiatan part-time cukup dimungkinkan untuk dilakukan dengan bayaran yang sangat sepadan. Di Cina sendiri, kalau kita ingin bekerja part-time, beban kerja dan bayaran yang didapatkan sering tidak sepadan.
Untuk internship sendiri, waktu itu saya berkesempatan untuk mengikuti di perusahaan perusahaan manufaktur jack-up rig (pengeboran offshore) Cina yang bernama Tianjin Hoidi Co., Ltd.—yang kemudian perusahaan ini juga lah tempat saya bekerja selama 1 tahun di Tianjin. Lalu saya sempat merasakan internship di sebuah firma hukum di Beijing, tak jauh dari kampus UIBE. Tidak lama saya cabut untuk mengikuti internship di Qihoo Co., Ltd, yaitu sebuah perusahaan pengembang aplikasi dari antivirus, game, sampai Apps lainnya.
Pada dasarnya internship memiliki tuntutan jam kerja dan beban kerja sama seperti pegawai reguler pada umumnya. Hanya saja kita menerima setengah gaji dari pegawai reguler. Tapi kalau dikonversi ke dalam Rupiah, hasilnya juga masih lumayan. Karena pun kalau kita internship di Indonesia, mungkin perusahaan yang kita temui sering tidak memberikan upah, dan kalau ada sedikit sekali hanya cukup untuk ongkos transportasi.
Hikmah dari stay lebih lama untuk bekerja di negara tempat kita studi adalah semata untuk menyerap etos kerja yang ada di negara tersebut sehingga kita terpacu dan terbawa excitement nya hingga kembali ke Indonesia. Walaupun memang ketika baru pertama kali kembali ke Indonesia pada akhir 2016, saya merasakan perbedaan kecepatan dalam beraktivitas antara ketika masih di Cina dengan di lingkungan sendiri.
Sewaktu bekerja di Cina, salah satu hal yang saya cukup kaget dan kagumi adalah ketika jam bekerja suasana kantor terasa sangat senyap. Hanya suara tuts keyboards saja yang terdengar. Semua fokus untuk melakukan pekerjaannya masing-masing. Kegiatan selingan semacam merumpi, ngobrol-ngobrol di sela jam kantor tidak ada sama sekali dilakukan.
Misalkan untuk waktu istirahat merokok, mereka bisa dibilang terlihat kurang menikmati rokoknya, karena waktu break yang singkat, setelah merokok, mereka langsung bergegas kembali ke cubicle atau meja masing-masing. Efisiensi dalam bekerja ini lah yang sangat perlu ditiru oleh kita sebagai masyarakat suatu negara yang masih banyak membutuhkan input dari banyak pihak. Mungkin kalau kita yang tidak biasa berinteraksi dengan pihak luar secara relasi profesional, mungkin kita akan berpikir orang-orang itu sangatlah workaholic, alias maniak bekerja. Padahal kalau kita perhatikan baik-baik mereka hanya melakukan apa yang perlu dilakukan dengan pencapaian-pencapaian yang jelas.
Ya, memang, di satu sisi mekanisme punishment and rewards nya berjalan dengan efektif. Di Cina, umumnya kantor menyediakan kantin di dalam gedung mereka masing-masing. Kantin-kantin tersebut tidak lah berbayar, hanya cukup melakukan tap dengan kartu pegawai kita, dan makanan sudah bisa kita ambil sembari mengantri. Makanan yang disajikan cukup komplit. Nasi, lauk, sayur, dan buah itu sudah satu paket. Dengan mekanisme makan siang yang terkontrol secara waktu, gizi, porsi, dan sebagainya, maka efisiensi dalam bekerja akan terus terjaga.
Uniknya, ketika saya internship di perusahaan Qihoo, ayi (asisten/cleaning service) yang ada di kantor ketika sudah jam 3 sore misalnya, mereka selalu menawarkan snack yang berupa buah atau roti-roti kecil yang bisa kita cemil sembari bekerja. Suasana kantor juga tambah nyaman dengan adanya pantri dan minuman free-flow seperti jus, susu, soft drink itu sudah menjadi sesuatu yang biasa di atmosfer tempat bekerja di Cina. Kalau di Indonesia, suasana kantor dengan pantry dan insentif snack seperti itu mungkin hanya bisa ditemui di kalangan industri startup-startup saja ya.
Belum lagi ketika ada hari-hari khusus seperti Imlekan, atau ulang tahun perusahaan, banyak sekali bonus-bonus yang ditebar oleh para pimpinan perusahaan untuk mengakomodasi keceriaan dari para pegawai mereka. Tidak jarang juga acara dibikin dengan mendatangkan bintang tamu seperti penyanyi maupun artis yang tentu saja diselipkan petuah-petuah dari para petinggi perusahaan agar para pegawai nya semakin semangat bekerja.
Dengan skill yang kompetitif tadi, mereka berusaha untuk melakukan amanah sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Tidak dengan kondisi di mana mereka hanya terlihat sibuk, tapi rendah produktivitasnya.
Tentu saja dengan mengenal lebih banyak relasi juga akan membawa kita pada kemampuan yang komprehensif dan dapat dibawa pulang ke Indonesia nantinya. Apakah itu nanti untuk keperluan menjadi seorang dosen, praktisi, maupun bekerja sebagai PNS. Hal ini agak sulit untuk dilakukan apabila kita setelah lulus secara langsung kembali ke Indonesia.
Terutama untuk rekan-rekan yang menempuh pendidikan S2 nya selama 1 tahun. Waktu 1 tahun itu akan terasa seperti beberapa bulan saja, bukan? Untuk rekan-rekan yang mengenyam S1 masih dalam posisi aman untuk melebarkan relasi. Tapi umumnya ketika di level pendidikan S1, kita masih belum percaya diri atau belum memiliki urgensi untuk mengembangkan relasi sedemikian rupa sehingga hal tersebut berguna ketika kita kembali ke Indonesia. Untuk rekan-rekan yang mengenyam S3, sudah barang tentu kematangan dalam melebarkan relasi sudah tidak perlu dipersoalkan lagi.
Salah satu yang juga saya sering temui dari rekan-rekan yang memilih untuk stay beberapa waktu terlebih dulu setelah kuliah adalah umumnya mereka menulis buku. Hal-hal yang bisa didapatkan di luar negeri, dengan segudang suka duka nya, kejadian-kejadian yang berkenaan dengan perkuliahan, pekerjaan, asmara, dan lain sebagainya memiliki sudut-sudut menarik yang bisa jadi membawa profit setelah menuliskannya menjadi buku. Kegiatan seperti bedah buku, mengisi workshop, FGD, dan lain sebagainya niscaya akan bisa dijadikan sebagai kegiatan sampingan rutin dengan nilai-nilai tambah yang telah kita dapatkan selama berada di luar negeri tadi.
Cheerio!