Saya bukanlah seorang alim ulama. Tidak pernah juga berpikir untuk berpikiran menjadi seorang yang dipuja dan diikuti berdasarkan pemahaman soal keislaman. Dengan latar belakang pendidikan non keagamaan, saya anggap diri saya biasa saja. Tulisan-tulisan di blog saya yang lainnya pun terkesan adalah mengenai hal-hal yang fitur (mudah dibaca) dan lebih banyak membahas soal Cina.
Namun, masih dalam rangka kejadian luar biasa wabah coronavirus, saya tergerak untuk membuat sebuah ungkapan kegelisahan mengenai dakwah Islam dengan apa yang terjadi terkait dengan virus ini. Memang, nyinyiran dan sikap-sikap jahat itu kebanyakan terjadi di media sosial. Artinya, kemungkinan besar yang bersangkutan ketika menuliskan hal tersebut tidak 100 persen menggunakan akal sehat apalagi nurani untuk mencela, caci-maki, mengeluarkan dalil-dalil terhadap virus ini. Ketahuilah, bahwa virus ini bukan seperti bencana-bencana alam yang hanya terjadi di 1 lokasi dan tidak akan menyebar ke lokasi lainnya. Dampaknya untuk seluruh dunia.
Dengan memandang atau berkomentar bahwa virus corona ini adalah adzab yang ditimpakan kepada orang-orang Cina atas perlakuan mereka “menindas” muslim, tunggu dulu. Bagaimana kalau Pemerintah Cina sedari awal mereka tidak all-out untuk menangani virus yang sejatinya memiliki penularan yang tinggi, tapi kematian yang lebih rendah dibandingkan MERS dan SARS? Pasti akan lebih banyak lagi orang-orang yang bukan merupakan WN Cina yang bisa tertular. Lantas kalau begitu, coronavirus ini adalah sebuah adzab yang ditimpakan untuk seluruh dunia. Kalau itu saya lebih sepakat. Lihat saja kelakuan manusia di dunia ini. Laut dan sungai menjadi kotor, langit berpolusi, asap rokok membunuh bayi-bayi tak bersalah, korupsi, konflik dan peperangan tak berkesudahan. Sesungguhnya 1 Bumi ini sudah diadzab dari dulu harusnya.
Yang saya tidak habis pikir, paralel dengan kejadian coronavirus ini, ada bencana lain yang juga sedang terjadi. Misalnya tidak lama sebelum corona ada kebakaran hebat di Australia, ada wabah hama belalang di Nigeria dan Pakistan yang mengancam stok pangan mereka, ada outbreak flu (berpotensi mematikan) di Amerika Serikat dan Kanada. Di satu sisi konflik Timur Tengah khususnya Yaman juga masih terus berlangsung tatkala tulisan ini dibuat. Keheranan saya terletak pada sebegitu benci nya masyarakat Indonesia (untuk yang benci) pada Cina. Perhatian semuanya tertuju pada cocoklogi dan penarikan kesimpulan mengenai apa-apa yang terjadi di Xinjiang.
Sumber-sumber berita yang beredar mengenai Xinjiang sudah jelas bukanlah hasil dari korespondensi dengan wartawan biro sendiri, tapi sudah penerjemahan, terjebak ke dalam opini jahat para media rujukan seperti CNN, New York Times, dan Radio Free Asia. Setelah kunjungan-kunjungan yang dilakukan oleh para perwakilan lembaga seperti NU, Muhammadiyah, jajaran Kabinet, wartawan, dll ke beberapa lokasi di Xinjiang, masih saja banyak pemikiran menyesatkan yang terburu-buru menyimpulkan dan mengaitkan Pusat Reedukasi di sana sebagai suatu upaya yang “menyebabkan adzab” ini.
Dengan kepolosan dan kedunguannya, banyak khalayak yang mengamini sehingga mereka merasa bahwa artikel-artikel saduran tersebut adalah ‘bekingan’ dari “kepintaran” yang dimiliki sebagai bekal berkomentar di media sosial. Padahal, kalau ditanya secara fisik, pengetahuan mengenai penanganan-penanganan wabah seperti ini juga mungkin nol. Termasuk saya yang juga bukan epidemiologis atau seorang lulusan FKM. Alih-alih mencoba untuk berkomentar ‘biarkan para ahli bekerja’ atau ‘saya tidak memiliki kapasitas soal ini’, atau yang lainnya, tapi tentu tidak, itu bukan karakteristik yang dimiliki oleh para ahli adzab dadakan.
Tapi uniknya, WHO dan pengajar dari Harvard awalnya melontarkan nada-nada sinis terhadap Indonesia yang disinyalir tidak dapat mendeteksi virus corona, hanya karena tidak ada orang Indonesia yang tertular corona di teritori Indonesia (1 warga Indonesia di Singapura sudah sembuh, dan 3 dari 78 awak kabin kapal pesiar Diamond Princess di Jepang tertular coronavirus https://www.liputan6.com/global/read/4182290/wni-positif-virus-corona-di-kapal-diamond-princess-berpotensi-bertambah-jepang-siap-bantu-evakuasi). Lantas tidak lama Profesor dari Harvard tersebut merubah statement nya setelah dijelaskan mengenai fasilitas, SOP dan mekanisme penanganan wabah corona yang sudah disiapkan oleh Kemenkes Indonesia. WHO sendiri kemudian merevisi statement mereka juga terkait ini. https://www.liputan6.com/health/read/4179828/who-apresiasi-langkah-cepat-indonesia-selamatkan-warganya-dari-ancaman-virus-corona, https://www.kompas.com/tren/read/2020/02/16/133000365/dianggap-menghina-ini-klarifikasi-profesor-harvard-soal-virus-corona-di?page=1.
Ketika contoh anggapan remeh WHO dan Profesor Harvard saja bisa salah, mengapa ketika “bocoran” file yang menuliskan bahwa ada ‘1 juta orang bersuku Uighur’ di Xinjiang ditahan oleh aparat Cina, yang kabarnya dirilis oleh PBB, kenapa mudah sekali mengamini? PBB sekali lagi, bukanlah lembaga Tuhan, mereka bisa salah. PBB isinya masih manusia. Manusia-manusia yang punya persepsi, punya kepentingan, dan punya nafsu duniawi untuk menggiring opini dan sebagainya. Lha, itu contohnya tadi di atas. Bahwa hal-hal yang bersifat opini tinggal lah opini. Perlu objektivikasi, observasi langsung, dan tidak melihat hal-hal yang sesungguhnya tidak kita mengerti kepada sebuah kesimpulan tak berdasar.
Beralih ke masalah dakwah dan coronavirus. Ada dua hal yang bisa saya coba kupas. Pertama, dengan “semangat” nya menyimpulkan bahwa coronavirus ini adalah adzab kepada negara Cina, niscaya hal ini bisa menutup kemungkinan bahwa Cina dengan segala komposisi demografi, sosial, dan budaya nya adalah juga merupakan ladang berdakwah. Toh di Cina sendiri juga ada 100 juta muslim yang hidup di sana. Hal tersebut merupakan landasan awal, kalau bisa ada 100 juta muslim di Cina, bermadzhab Hanafi, mengapa lantas seakan-akan kemungkinan untuk mendakwahi ratusan juta orang Cina lainnya itu menjadi sesuatu yang mustahil?
Kemudahan yang didapatkan karena teknologi seharusnya bisa mempermudah komunikasi antarbangsa, antarbudaya, antarkeyakinan, antarsikap. Tetapi teknologi juga nyatanya sudah membuat malas otak sebagaian besar masyarakat Indonesia untuk berpikir solusi dakwah konkret.
Di Cina sendiri, seperti yang sudah pernah saya tuliskan di https://fathansembiring.wordpress.com/2020/02/08/titik-temu-indonesia-dan-tiongkok/ mengenai titik-titik temu yang justru bisa lebih diangkat, mengkomunikasikan hal-hal yang bersifat dakwah bukanlah hal yang mustahil. Apalagi kalau kita coba melakukan pendekatan-pendekatan personal dengan teman-teman yang kita baru kenal atau sudah lama kenal. Untuk hal ini, tidaklah perlu risau mengenai apa-apa yang terjadi di Xinjiang. Karena hal-hal tersebut sangatlah kompleks dan secara garis besar berita-berita yang keluar adalah bernuansa politis semata. Selain Xinjiang, banyak sekali daerah di Cina yang bisa dijadikan destinasi dakwah. Ya memang, tidak bisa berdakwah di Cina secara terang-terangan, tapi, bukankah dulu Rasulullah SAW dan para sahabatnya juga pernah melakukan dakwah secara tertutup, ketika para pemimpin Quraisy sangat mengawasi gerak-gerik mereka?
Saya pribadi melihat dakwah ini sebagai suatu upaya, bukan sebagai hasil apakah yang bersangkutan akan melihat Islam sebagai the way of life nya mereka. Biarlah Allah SWT yang membukakan pintu hidayah kepada relung-relung sanubari yang memang Allah SWT izinkan untuk mengecap keislaman. Tapi, walaupun demikian, yang terjadi sekarang ini nampaknya keputusasaan dan pengambilan kesimpulan yang terburu-buru justru membuat kita harus mempertanyakan lagi kadar keimanan kita sendiri. Dalam artian apa? Dalam artian Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan hinaan, tidak pernah mengajarkaan celaan bahkan kepada seorang kafir sekalipun. Dalam hal ini kafir ya orang-orang yang ateis, menolak akan kehadiran Tuhan, bukan? Orang Cina umumnya agnostik.
Mengutip tulisan yang terkait hinaan dari https://islam.nu.or.id/post/read/108903/rasulullah-tegur-abu-bakar-karena-melaknat-orang-kafir, Rasulullah SAW saja sampai pernah menegur keras sahabat Abu Bakar yang ketika itu menjelek-jelekkan dan melaknat ayah dari Amr Bin Ash, seraya beliau berkata “Wahai Abu Bakar, bila kamu berbicara tentang orang kafir maka buatlah kalimat yang masih umum. Bila kamu menyebut seseorang secara khusus, maka anak-anaknya tentu akan marah,” kata Nabi Muhammad kepada Sayyidina Abu Bakar. Umat Islam tidak pernah lagi menjelek-jelekkan orang kafir setelah peristiwa itu.
Tapi bisa kita lihat ironi nya sekarang. Apakah mungkin bila Rasulullah SAW masih hidup saat ini, beliau harus kerepotan untuk menegur satu per satu netizen yang mudah sekali melaknat Cina, apapun kasusnya. Sesungguhnya mereka itu umat nya siapa?
Ayolah, ketimbang gatal berkomentar sesuatu yang dungu, lebih baik kaji, baca, banyak bisa kita dapatkan online, https://islam.nu.or.id/post/89/sirah-nabawiyah dari website ini misalnya, kalau malas atau mahal beli seri Sirah Nabawiyyah. Paling tidak dengan begitu kita bisa disibukkan dengan selain melihat video-video oplosan dari media “Islam” abal-abal. Sedikit pakai nama-nama islami, lalu diaminkan sebagai referensi yang shahih. Dari Hongkong!
Kedua, bahwa dengan observasi sebentar saja, mau itu di Indonesia, Malaysia, Timur Tengah, atau negara-negara muslim lain yang memiliki netizen yang gatal jempol untuk berkomentar, niscaya Cina (pemerintah maupun rakyatnya) akan merasa terpojok dan menutup diri mereka dari paparan dakwah, siapapun itu sumbernya.
Ingat, penduduk Cina sebagian besar itu merupakan manusia agnostik. Artinya, mereka tidak mengerti Tuhan dan ketuhanan, bukan ateis yang terang-terangan menolak Tuhan. Memang, kalau sudah urusan data pemeluk agama, data dari Pemerintah Cina tidak ada yang bisa dipegang. Kenapa? Ya karena di KTP mereka tidak ada kolom agamanya. Sehingga, dengan kondisi masyarakat yang umumnya agnostik, bukan ateis, niscaya kemungkinan untuk berdiskursus soal agama, Tuhan, halal-haram, penjelasan sains mengenai Islam, sesungguhnya masih terbuka lebar.
Namun, pribadi agnostik ibarat terhalangi oleh selembar tisu yang sangat tipis. Sedikit saja keyakinan dia soal ‘belum mengenal Tuhan’, akan mudah sekali untuk berpindah menjadi ‘Tuhan tidak ada’. Sikap agnostik dari penduduk Cina ini sendiri juga masih bertahan karena sejatinya mereka masih percaya hal-hal yang ektraterestrial/takhayul. Bahkan kebudayaan Cina sendiri masih percaya bahwa di ‘surga’ sana, di atas langit, ada sosok yang mengatur semuanya di Bumi ini. Pun, secara tradisional masyarakat Cina adalah penganut Agama Buddha, yang percaya dengan beragam dewa-dewi. Sama seperti kondisi masyarakat Indonesia pra-keislaman yang datang ke Bumi Nusantara. Lantas, dengan potensi sosial-masyarakat seperti itu, para ahli adzab dari Indonesia tidak melihat nya sebagai sebuah peluang dakwah? Malas sekali.
Dengan kondisi sosial-masyarakat yang agnostik, juga materialistis, hedonisme di mana-mana, niscaya kondisi tersebut juga dihadapi oleh Rasulullah SAW bahkan para Wali Songo ketika mereka berdakwah. Bayangkan saja, apa jadinya kalau para Wali Songo melihat kondisi masyarakat (Jawa) yang dulu umumnya suka berjudi, mabuk-mabukan, sabung ayam, tidak mengerti thaharah, bodoh, dan lain sebagainya. Bayangkan kalau para Sunan itu menyerah begitu saja. Bayangkan apakah lucu kalau para Sunan itu menggunakan sosmed dan dengan mudahnya mencela, menghina, menghakimi kondisi sosial-masyarakat yang pada waktu itu memang belum mengenal Islam. Sudah seperti apa jadinya Nusantara?
Padahal, kalau kita browsing sedikit saja, contohnya via https://islam.nu.or.id/post/read/114516/serpihan-kisah-cara-dakwah-wali-songo terlihat bahwa metode-metode dakwah yang benar dan menjunjung tinggi kemanusiaan, sudah dilakukan oleh para Sunan sejak lama.
Dengan mengamini komentar-komentar adzab coronavirus, sudah barang tentu tidak akan ada lagi pemikiran untuk mengambil kasus ini sebagai bagian dari topik dakwah, padahal sangat bisa dilakukan. Secara konkretnya seperti apa?
- Walaupun belum incracht (diputuskan valid) bahwa coronavirus ini adalah bersumber dari kelelawar dan ular, namun dari bahasan ini saja sudah bisa menjadi suatu topik yang dapat diajukan ketika berdiskusi soal anjuran-anjuran dalam Al-Quran dan Hadits mengenai halal-haram makanan/minuman. Walaupun sebenarnya, mungkin hanya 0,0001 persen dari masyarakat Cina sendiri yang masih melihat kelelawar dan ular sebagai penganan rutin mereka. Ya, mereka memakan babi, tapi sepengalaman saya 5 tahun berada di Beijing, Tianjin, dan kota-kota lainnya, makanan-makanaan eksotis seperti kelelawar, ular, ataupun anjing bukanlah menu yang juga mudah didapatkan. Tapi, bottom line nya tetap, yaitu ujaran yang bisa diselipkan agar makanlah makanan yang seperti dikatakan oleh Al-Quran dan Hadits.
- Salah satu hal yang menyebabkan perlambatan penyebaran coronavirus ini adalah dengan menjaga sanitasi baik lingkungan maupun fisik sendiri. Cina sendiri memang memiliki kekurangan pada penjagaan kebersihan diri dan lingkungan mereka. Oleh karena itu, hal-hal yang bersifat menjaga kebersihan bisa menjadi topik-topik yang dibuat sehingga mereka ‘ngeh’ dengan Islam sedari awal menjaga kebersihan, paling tidak kalau kedepannya (naudzubillah) ada terjadi lagi corona (jenis lain), bisa terhindar karena sering thaharah.
- Coronavirus juga bisa ditangkal dengan pola-pola hidup yang sehat. Karena umumnya daya imun di dalam tubuh manusia sehat bisa menekan pertumbuhan virus tersebut. Dalam Islam banyak sekali hal-hal yang berkenaan untuk menjaga kesehatan, baik itu dari kejiwaan dan fisik. Di sini kita misalnya bisa menjelaskan mengenai keutamaan puasa, shalat, makan sebelum kenyang, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan menjaga kualitas kesehatan kita sesuai dengan tuntunan Islam. Banyak sekali bukan?
- Cina juga merupakan negara yang memiliki produk obat yang berasal dari trial and error ratusan tahun lamanya, sehingga dapat disebut sebagai Traditional Chinese Medicine (TCM). Dalam penanganan coronavirus ini, para dokter pun sekuat tenaga meramu dan memadukan penggunaan obat-obat TCM dengan obat-obat generik yang datangnya dari Barat. Semua ramuan dicari dengan tujuan untuk meningkatkan imunitas tubuh pasien, karena toh SARS, MERS, sampai sekarang juga belum ada obatnya. Lantas, misalnya kita berbicara mengenai Thibbun Nabawi (pengobatan ala Rasulullah SAW), kenapa tidak hal ini menjadi diskursus yang menarik untuk dibahas. Pendekatan herbal di Indonesia juga kurang digarap maksimal, tapi tetap bisa dipadu-padankan agar obrolan terasa lebih variatif. Terlebih kalau perpaduan pengobatan alternatif non generik ini dibahas secara serius. Antara TCM, Thibbun Nabawi, dan pengobatan herbal ala Indonesia. Bukankah sangat menarik dan banyak bahasan yang bisa disampaikan?
Pertanyaan saya, katakanlah kalau kebakaran hebat di Australia yang sampai menyebabkan kerugian ratusan juta dollar AS itu adalah suatu adzab karena banyak dari turis yang ada di Bali adalah berasal dari Australia. Mereka meminum minuman keras, (diduga) berzina, melakukan hal-hal yang berkategori maksiat tentunya. Lantas, mengapa komunitas muslim di Australia memilih untuk membantu dalam banyak urusan seperti mengadakan dapur umum, sanitasi, air bersih, sumbangan baju, dan lain sebagainya? Apakah mereka tidak tahu kalau di Bali, turis-turis asal Australia melakukan banyak kemaksiatan tadi? Kenapa tidak dibiarkan saja kebakaran itu membumihanguskan Australia semuanya, muslim Australia bisa kok minggat ke negara lain, seperti New Zealand yang dekat dan tidak ada kebakaran.
Kesesatan pemikiran itu lah yang sangat mengkhawatirkan sedang terjadi di Indonesia melihat dari kasus coronavirus di Cina ini.
Saya memang bukan seorang ustadz, penceramah, atau kyai. Tapi dari pemahaman saya belajar Agama Islam sejak dari SD hingga dewasa, tidak ada satu perjalanan dakwah dari Rasulullah SAW untuk mensyiarkan Islam tanpa tantangan. Tantangan kekinian sewaktu masa dakwah dulu otomatis jauh lebih berat. Bahkan Rasulullah SAW pernah dilempari batu dan kotoran binatang. Lah, kita saja yang tidak pernah ditimpukin batu atau tai ayam dalam rangka berdakwah saja sudah merasa tidak bisa, merasa bahwa orang-orang di Cina semuanya kafir yang tidak bisa diselamatkan, merasa bahwa ‘biarkan saja coronavirus, itu adalah adzab karena mereka kuffar’, dan lain sebagainya. Tapi, poin pentingnya adalah, orang Cina nya sendiri itu mereka tidak tau bahwa mereka adalah kafir, karena kesempatan yang ada sangat terbatas sehingga mereka tidak terpapar oleh kabar-kabar mengenai Islam dan konsep pendekatan dakwah yang sejuk. Wong ketika ada virus ini saja mereka terus dihujat dan dihakimi. Bukan hanya dari masyarakat negara-negara muslim saja, tapi beberapa oknum jahil di Amerika, Kanada, Jerman, atau negara-negara Eropa lainnya senantiasa menghembuskan sentimen anti-Cina yang mengatakan bahwa coronavirus ini adalah sesuatu yang sengaja dibuat dan disebarkan oleh orang Cina. Sesat!
Padahal kalau sekali lagi melihat dampak dari coronavirus ini, bukan hanya Kota Wuhan saja, bukan hanya Provinsi Hubei saja, bukan hanya negara Cina saja yang kena apesnya. Jaman now, mobilitas sudah sangat mudah. Ekonomi bisa bergeliat karena perpindahan orang dan barang sudah sedemikian canggihnya. Kerugian akibat coronavirus di seluruh dunia bisa mencapai miliaran dollar AS. Di Bali saja, dengan banyaknya turis asal Cina yang melancong ke sana, kerugiannya sudah mencapai 82 miliar Rupiah https://bisnis.tempo.co/read/1305127/virus-corona-hantam-pariwisata-bali-rugi-rp-82-miliar. Kerugian ekonomi bukanlah hal yang bisa dipandang sebelah mata. Dari angka 82 miliar saja misalnya, berapa banyak hotel, rumah makan, jasa logistik, tukang sablon, tukang cuci, tukang ojeg, supir travel yang tiba-tiba resah karena tidak bisa membawa uang harian yang sebelumnya lancar. Apakah mereka-mereka yang terlibat pada pergerakan ekonomi yang didorong oleh wisata di Bali tidak ada yang muslim? Pribadi nya muslim, istrinya muslim, anak-anaknya muslim, orang tua mereka muslim. Lantas, ini adzab bagi para pelaku pariwisata di Bali juga?
Hantaman coronavirus ini bukanlah sesuatu yang patut dicampuradukkan dengan penilaian-penilaian sumbu pendek yang tidak berdasar. Dengan dunia yang sudah makin terkoneksi baik secara bisnis, sosial, dan politik, terjadinya wabah di suatu negara, niscaya akan membawa rentetan dampak untuk belahan bumi yang lainnya. Apalagi Indonesia masih satu zona Asia dengan Cina. Beda halnya kalau dulu Ebola terjadi di Afrika, sehingga lebih sedikit dampaknya yang terjadi di Indonesia.
Jadi, selamat. Anda sudah menutup pintu dakwah ke Cina karena kegatelan berkomentar yang menyesatkan di media sosial!