Bukan, ini bukan seruan untuk menjadi kader atau simpatisan Partai Berkarya besutan Tommy Soeharto. Walaupun memang partai tersebut memilih nama yang mau engga mau di banyak kesempatan pasti sering kesebut. Tapi blog ini tidak membahas soal itu.
Tak terasa sudah masuk PPKM Level berapa ya? Nampaknya sudah terlihat “membaik” situasi C19 ini. Apa engga?
Katanya kalau musim politik 2024 sudah dekat, pandemi akan hilang dengan sendirinya. Betul atau betul?
Mudah-mudahan rekan-rekan semua tetap sehat dan diberikan ketabahan atas segenap anggota keluarga inti, besar, sahabat, teman, rekan kerja, dll yang telah mendahului kita. Amin.
Pandemi ini tidak lain mengingatkan betapa rapuhnya manusia yang sewaktu-waktu akan mati. Boleh kita berolahraga sampai berotot maksimal, kita menjaga pola makan, istirahat, keto, yoga, yogi, dll itu. Tapi mati adalah suatu titik yang tidak ada sesiapa yang bisa menghindarinya.
Baru-baru ini ada berita terkait dengan Jeff Bezos sedang berinvestasi di sebuah startup yang berkaitan dengan genetika, yang intinya memiliki tujuan untuk paling tidak memperlambat penuaan dan proses penurunan fungsi tubuh. Ada deh, coba dicek.
Namun, upaya manusia sejak zaman Firaun Ramses II main gundu, sampek Kaisar-kaisar di Cina yang menyebarkan berbagai sayembara untuk menemukan ramuan yang berkhasiat untuk menghindarkan manusia dari kematian, nampaknya belum bisa menjawab itu. Karena memang tidak bisa. Silahkan baca lagi ayat nya.
Mumifikasi baik itu pada kebudayaan Mesir kuno, maupun kebudayaan lain, sampai kebudayaan memandikan jenazah di Toraja setiap tahun, tidak lain juga dalam rangka menjadikan manusia yang sebetulnya sudah mati supaya bisa “hidup” kembali. Namun, hal-hal semacam itu tidak bisa diterapkan di semua kebudayaan, suku, ras, agama, dll dsb. Mati ya mati.
Alih-alih kita manusia modern yang jumawa akan fasilitas di setiap langkah kehidupan kita, memikirkan untuk bagaimana menghidupkan yang mati, lebih baik berpikir legacy apa yang akan kita tinggalkan ketika kita sudah tidak ada.
Gajah mati meninggalkan gading, tapi sudah jarang karena dewasa ini banyak pemburu gading yang juga belum selesai dicegah.
Harimau mati meninggalkan belang, eh tapi kulitnya sudah terpajang di ruang tengah bos besar perlente yang kesehariannya seperti El Chapo.
Kita mati meninggalkan apa?
Apalagi ketika pandemi ini. Banyak orang yang begitu cepat meninggalkan kita, tanpa kita mengetahui sebetulnya dia ini bagaimana. Orang tersebut sebetulnya memiliki pemikiran apa. Sisi lain kehidupan dia itu seperti apa sih? Khas kepo orang kita yes?
Karena kalau nafas sudah berhenti, yasudah, kita mau nulis blog, kita mau mulai bikin-bikin podcast amatir, kita mau sekedar bikin Tiktok, Reels, Shorts, dll udah telat broh!
Kalau saat pandemi ini selesai kita masih merasa bahwa bingung bagaimana berkarya (bukan partai!), silahkan ke TPU-TPU C19, tanyakan kepada para mayit cara menelurkan karya seperti apa.
Banyak dari kita yang merasa bahwa hidup kita tidak menarik, tidak bisa di-share, tidak ada bahasan yang bisa mendatangkan ribuan likes, subs, atau monetize. Padahal, persetan dengan itu semua, bukan?
Memulai berkarya (bukan partai!) dengan cuan itu tidak ada hubungan sejajarnya, tauk! Maka jangan dipaksakan logikanya itu (baca pakai intonasi khas nya Rocky Gerung, sambil serakh-serakh begitu). Ampun Om. Tanah aman Om? Wkwk.
Tidak perlu bahwa kita yang bukan bekerja di bidang creativepreneur, kreator konten, advertising, PR, ghost writing, dll merasa bahwa itu bukan ranah kita, maka kita tidak perlu melakukannya.
Coba balik lagi ke Pasal 1. Bayangkan kalau kita mati besok. Fin. Tamat.
Di satu sisi banyak hal yang ingin kita juga sampaikan ke rekan-rekan kita, curhat-curhatan ga penting, sekedar ghibah dsb, tapi besok udah mati bro.
Di sisi lain ya tadi, banyak orang yang mungkin penasaran sama kita, ingin tau banyak tentang cerita-cerita kita, kemampuan kita, dll.
Beruntunglah para seniman yang betul-betul memiliki karya yang melegenda. Diputar, ditonton, dibaca hingga saat ini, atau sampai nanti ketika Dajjal benar-benar muncul Khurasan.
Segenap senior seniman baik itu penyanyi, penyair, pelukis, penulis, sutradara, tentu juga pada awalnya bukan sesuatu yang sengaja mereka lakukan demi cuan. Hal tersebut mereka lakukan karena sudah dapat feel nya. Mereka hobi. Mereka memiliki passion soal itu. Mereka tau bahwa karya-karya tersebut adalah sebuah warisan yang tak benda.
Makanya jangan heran Om Indro Warkop selain geram, juga sedih karena ada kemunculan Trio Warkopi.
Karya itu bukan hanya soal cuan, bukan soal SEO. Itu mungkin baru-baru beberapa tahun ini orang-orang berkarya demi cuan. Tapi angkatan-angkatan senior itu berkarya bukan demi cuan. Kalau berkarya demi cuan, mungkin sudah banyak seniman yang bergelimang harta. Tapi toh engga semuanya juga kan?
Karena kalau nanti kita sudah kepala 3, 4, 5, 6 baru deh sadar umur tinggal beberapa tahun lagi, kan? Baru mau mulai nulis, bikin channel, bikin podcast, telat! Baru aja mau ngetik udah encok itu pinggang. Keguyur angin AC sedikit malem-malem nulis naskah podcast, besoknya stroke. Halah!
Berpikirlah sederhana.
Fokus.
Kerjakan sedikit demi sedikit.
Kerjakan sekarang.
Itu.
–jadi kangen Om Mario Teguh euy.