Tulisan ini merupakan script yang saya gunakan untuk mengisi konten di segmen Cha Guan, AsumsiCo https://www.youtube.com/@Asumsiasumsi/playlists, selamat menikmati.
Sebelum gue kasih aba-aba untuk memulai keributan di kolom komentar, ada lead yang mau coba gw sampaikan, bisa jadi salah, tapi ini analisis gue.
Lead pertama, kalau saja Cina dipandang mendominasi ‘serangan’ investasi yang berujung pada penguasaan kedaulatan—gitu kan narasi-narasi yang dibangun?—lalu kenapa pada tahun 2021 lalu angka investasi masuk paling besar dari Singapura? Bukan Cina. Karena kalau narasinya demikian, hanya melihat angka saja, tanpa peduli sebetulnya rinciannya bagaimana, seharusnya kata serangan tadi dialamatkannya ke Singapura dong, bukan ke Cina.
Menurut bkpm atau kementerian investasi, Singapura jika ditotal investasinya di Indonesia pada tahun 2021, ada sebesar 9,4 juta USD. Peringkat kedua ada hong kong 4,6 juta USD, baru Cina sebesar 3,2 juta USD. Ya walaupun kalau kata Menteri Bahlil, uang-uang Singapura yang masuk itu juga engga mungkin semuanya uang mereka, tapi ada uang para konglomerat Indonesia juga. Yang disinyalir kapok dan malas berurusan dengan perizinan karena banyaknya pungli, biaya-biaya siluman dan sebagainya. Tapi kata Menteri Bahlil, sekarang sudah tidak ada lagi, langsung-langsung aja katanya.
Lead yang kedua yang mau gue sampein adalah. Menurut global times, Cina di tahun 2020 merupakan negara yang mengeluarkan investasinya atau yang biasa disebut dengan investasi ke luar, atau outward FDI, itu menjadi negara nomor satu di dunia, yaitu sebesar 153,71 milyar USD. Setelah Cina, negara yang paling besar investasi ke luar nya tadi ada Amerika Serikat dan Belanda, itu di tahun yang sama.
Jadi, kalau kita bilang bahwa Indonesia mau dikuasai oleh Cina, sedangkan Cina sedang jor-joran nya berinvestasi di luar negeri mereka, tapi ternyata ranking investor masuk ke Indonesia yang terbesar itu Singapura, ini juga sebetulnya membuktikan kalau Cina sendiri tidak melihat Indonesia itu sebagai prime market untuk berinvestasi.
Dengan segala pertimbangan yang mereka punya, dan kondisi isu anti-Cina yang naik turun, soal kebijakan investasi di dalam negeri, dan lain sebagainya, bisa jadi alasan mengapa Cina juga di sisi lain tidak melihat Indonesia itu penting sebagai tujuan investasi.
Lead yang ketiga, di episode sebelumnya ane sempat bahas sedikit soal OBOR. Tapi yang belum gue sebutin di video itu adalah, ya gue liat di Wikipedia, tapi kutipannya itu dari China Global Investment Tracker, untuk sektor konstruksi—investasi dalam bentuk proyek konstruksi, yang terbesar dari program OBOR alias Belt and Road Initiative itu adalah Pakistan. Pakistan bro, bukan Indonesia juga. Malah setelah Pakistan, bertengger Nigeria dan Bangladesh. Itu 3 negara notabenenya mayoritas muslim semua. Coba deh abis ini pada cek sendiri.
Masih merujuk pada China Global Investment Tracker, di tahun 2021 Cina punya investasi keluar sebesar 63,45 milyar USD. Memang agak menurun ya dari data 2020 tadi. Cuma, paling besar dana investasi itu masuk kemana coba? Di tahun 2021 paling besar dana investasi Cina masuknya ke Turkmenistan. Yaitu sebesar 7,07 milyar USD, ini uang investasinya China National Petroleum Corporation. Lalu ke Serbia, di tahun yang sama uang Cina yang masuk ke negara tersebut sebesar 3,8 milyar USD, itu project konstruksinya perusahaan China Communication Construction. Abis Serbia ada Iraq yang menerima investasi dalam bentuk proyek konstruksi sebesar 2,85 milyar USD garapannya perusahaan China International Trust and Investment.
Agak banyak ya kalo list nya gue lanjutin. Yang jelas posisi Indonesia di tahun 2021 sebagai penerima investasi Cina itu bukan ke 5 besar. Itu tadi setelah Iraq, masih ada Mesir, Guinea, Israel, Nigeria, baru deh Indonesia udah urutan ke berapa itu juga.
Ya memang sih, ga salah kalau kata Menteri Bahlil investasi Singapura yang luar biasa yang gue sebut di awal tadi itu bukan uang mereka sendiri. Paling engga pasti ada uang dari grup-grup besar asal Cina seperti Alibaba Group, konsorsium yang dipimpin oleh grup nya Tencent, China Maple Leaf Educational, YY dotcom, dan lain sebagainya. Pada September tahun 2021 aja grupnya Alibaba investasi di Singapura sebesar 200 juta USD, konsorsium Tencent di maret 2021 berinvestasi sebesar 140 juta USD. Yy dotcom, entitas perusahaan milik Joyy inc, yang kalo kita tau salah satu App nya dia itu Hago, nah itu, mereka tahun 2019 investasi di Singapura, di pasar modal nya sebesar 1.080 juta USD.
Menurut Statista, investasi Cina ke Singapura di tahun 2019 ada sebesar 4,83 milyar USD, dan pada tahun 2020 malah meningkat ke 5,92 milyar USD.
Intinya, memang banyak uang investor Cina yang mendarat dulu di Singapura, atau juga ke Hong Kong, baru nanti dari perusahaan-perusahaan tersebut ekspansi bisnis nya ke Indonesia, Malaysia, Thailand, seluruh dunia.
Kebanyakan uang-uang besar itu untuk ekspansi di pendanaan beragam seri untuk startup digital, seperti Shopee, Go-To, Lazada, Garena, dan lain sebagainya, itu ga cuma untuk pasar Indonesia aja ya.
Jadi, memang memahami di ranah dunia investasi yang seperti ini tidak mudah ya. Karena kalau ada yang bilang bahwa batas-batas negara itu ga penting, ya memang begitu di realita nya. Yang banyak mendorong atau mengontrol tren, regulasi, dan lain sebagainya adalah korporasi-korporasi besar yang uangnya tidak berseri itu.
Misalnya lagi soal TKA Cina. Bukannya mau ngebela, tapi coba lah kita lihat rujukan datanya. Kalau misalnya memang merasa bahwa data yang ada tidak valid atau dikurang-kurangi seperti apa, ya apakah Anda ada pembandingnya?
Sejak pelarangan ekspor nikel mentah ke luar negeri yang diteken oleh Presiden Jokowi dan berlaku efektif pada tanggal 1 januari 2020, konsekuensi nya banyak dari perusahaan pengolahan nikel, yang umumnya berasal dari Cina, terpaksa membongkar smelter mereka yang sudah dibangun di Cina, untuk dipindahkan ke Indonesia.
Kalau kita lihat dokumen peluang investasi nikel Indonesia yang dirilis oleh kementerian ESDM di tahun 2020—karena versi tahun 2021 nya belum keluar, Indonesia memiliki paling tidak 52% cadangan nikel dunia, dan data ini sebetulnya diperbarui setiap waktu ketika ada penemuan lokasi cadangan nikel terbaru. Total cadangan nikel yang Indonesia punya ada sebesar 72 juta metrik ton, dari total 139,4 juta metrik ton secara global.
Cuma, banyak masyarakat karena melihat bahwa produk Cina itu murah-murah, kualitas jelek, dan lain sebagainya, sehingga membandingkan smelter untuk mengolah bahan tambang seperti nikel itu sebanding dengan misalnya produk kayak HP, perkakas rumah, dan lain sebagainya. Atau misalnya karena pernah berpapasan sama TKA asal Cina, muka nya ya mohon maap nih buat Dubes Cina yang baru dateng, banyak yang bilang TKA Cina muka nya culun-culun, mana mungkin bisa punya kemampuan teknik yang tinggi? Bro, don’t judge the skill by the face, kata Cak Lontong!
Malah ada yang bilang para TKA itu sebetulnya tentara yang menyamar, hanya karena mereka ke Indonesia pake jaket-jaket loreng. Eh, sekarang gue tanya, emangnya kalo di jakarta atau di mana ada orang pake loreng-loreng itu juga otomatis tentara? Gue misalnya, kalo gaya jadi army-army sedikit, udah lah botak gini kan, terus pake loreng, kan ga otomatis gue tentara. Lagian, di Cina itu, tentara itu badannya tegap-tegap, dicetak sama mereka kayak bikin patung, spek badannya beda potongannya bro. Ya tapi kalo bahas soal tentara Cina, itu ga sekarang deh.
Tapi, balik lagi waktu gue wawancara kemarin sama bro Pangeran, gw juga bilang, ini semua tergantung leadership dan kebijakannya. Kalau memang Pakde Jokowi mau melarang ekspor bahan tambang mentah, paling engga setahun sebelumnya dari penentuan tersebut para teknisi lokal dikirim dulu ke Cina untuk belajar Bahasa Mandarin.
Gue pribadi yakin kok teknisi lokal Indonesia itu bagus dan pintar-pintar. Cuma memang, ketika kenyataannya bahwa keputusan itu membuat perusahaan-perusahaan smelter asal Cina untuk membongkar pabrik mereka yang sudah berdiri di Cina untuk dipindahkan ke Indonesia, otomatis mereka bawa juga pekerja mereka yang memang mengerti entah itu bahasa yang tertulis di mesinnya, komunikasi antara manajer lapangan dengan para teknisi nya, atau secara kalkulasi finansialnya yang kalau di Cina itu mereka punya gaya sendiri.
Seperti di Morowali, Kendari, Maluku Utara, dan lain sebagainya itu kan memang daerah-daerah prima menjadi sasaran bagi para pelaku industri pertambangan dan mineral.
Tapi, kalau kita lihat saja data misalnya ini dikutip oleh koordinator media relation dari IMIP misalnya, itu kawasan industri di Morowali yang berisikan 16 perusahaan yang bergerak di pengolahan nikel, dan ada 11 smelter di dalam kawasan itu. Dikutip dari detik com, memang sih ini data tahun 2018, jumlah TKA Cina ada 10% aja dari total pekerja yang bekerja di imip, itu sekitar 2.100 orang TKA Cina. Memang pengurangan bertahap itu dilakukan dong. Seperti yang sempat gue bilang di wawancara kemaren, tadinya rasionya 1 TKA 3 orang pekerja Indonesia, menjadi 1 TKA berbanding 6 orang pekerja Indonesia, dan nantinya akan punya rasio 1:16.
Misalnya lagi di proyek kereta cepat. Mengutip cnbc Indonesia, dari total pekerja yang terlibat di proyek pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung ada 12 ribu orang. Jumlah TKA nya hanya 2 ribu kok, sisanya ya pekerja Indonesia. Banyak juga temen-temen gue yang lulusan Cina kerja jadi penerjemah, di bagian manajemen, finance nya, teknik juga banyak.
Ya kalo dilihat dari angka keseluruhan soal TKA ini, gue mengutip dari website nya Tempo, total pekerja asing dari banyak negara di Indonesia itu ada 92.058 orang, ini data tahun 2021, sekitar 35.781 orangnya itu TKA Cina. Tapi tren ini menurun dari tahun 2019, 2020, dan 2021. Artinya memang jangan berpikiran juga bos-bos mau itu untuk perusahaan smelter nikel, batubara, atau yang lainnya mereka happy untuk mengirimkan TKA mereka ke Indonesia. Karena logikanya kan justru lebih mahal. Cuma karena mereka mungkin dulu pas awal 2020 tanya berapa jumlah teknisi Indonesia yang bisa bekerja untuk perusahaan Cina, ya kita juga ga ada datanya gue yakin.
Apalagi untuk misalnya banyak TKA ilegal, ya gue sih ga akan ngebelain juga, pulangin aja. Tapi, asalkan jangan kayak pahlawan kesiangan, justru sidak-sidak ke tempat yang udah sebetulnya diketahui ada TKA ilegalnya, malah dijadiin show, dianggap itu kerja. Kalau batas waktu tinggalnya sudah habis atau memang menyalahi aturan visa on arrival, pulangin aja.
Dan investasi Cina di Indonesia itu bukan cuma smelter atau melulu yang berhubungan dengan tambang dan mineral. Sektor energi juga banyak. Itu kan sektor primer kalo misalnya kita ke daerah-daerah, memangnya ada swasta kita yang mau bakar duit dan punya kompetensi untuk itu? Gue rasa belum.
Tapi kan ya kembali lagi, ini jangan ributnya hanya di media sosial aja. Atau misalnya yang ribut soal itu domisilinya di Jabodetabek atau di provinsi lain yang jauh banget dari lokasi-lokasi riil tempat perusahaan-perusahaan Cina berinvestasi.
Sebagai konsultan di beberapa perusahaan PMA Cina, mau itu yang tetap maupun project-based, gue melihat ya karena PMA itu datangnya dari luar, jadi itu semua tergantung balik lagi pada kebijakan investasi dalam negeri dan penegakan hukum di lapangan yang harus clear. Investor-investor asing itu pasti akan nurut sama regulasi, tapi kalau regulasinya itu abu-abu, masih banyak celah, dan di lapangan banyak ya kita tau sendiri lah praktek-praktek yang terjadi, justru itu berbalik ke kita nih.
Dan kalau kita mau tarik sebetulnya secara mendasar, ini kan kembali kepada kesiapan sdm dalam negeri ya. Ya kita-kita ini. Jangan salah melihat perkembangan zaman gitu. Kalo memang perkembangan zaman nya yang sudah berubah, kita nya dong yang harus menyesuaikan, bukan sebaliknya.
Apalagi terkait kesiapan ya mau itu terkait soal pengusaaan bahasa, kemampuan teknis—kalo tadi bahas nikel berarti metalurgi ya, atau hal-hal lain lah, itu kan riil banget.
Inget lho, bro sis sekalian. Ini baru rame-rame soal investasi asal Cina. Kalau nanti misalnya pandemi udah agak reda, abis itu dari misalnya Thailand, Vietnam, India, Rusia, atau negara-negara lain lebih banyak lagi berinvestasi dan TKA mereka bekerja di Indonesia, masa kita cuma modal ngelarang-larang aja. Siapkan aja skill kita masing-masing, nanti lihat gimana kita bisa masuk ke sektor ekonomi apa yang sesuai.