Tulisan ini merupakan script yang kami gunakan untuk mengisi konten di segmen Cha Guan, AsumsiCo https://www.youtube.com/@Asumsiasumsi/playlists, selamat menikmati.
Berbicara ilmu herbal, tidak lepas dari namanya ilmu pengobatan tradisional Tiongkok/ TCM. Ilmu herbal Tiongkok merupakan salah satu ilmu herbal tertua yang masih eksis dipakai hingga saat ini di seluruh dunia. Kitab herbal tertua yang ditemukan saat ini, kitab Shen Nong Ben Cao Jing, berusia tidak kurang dari 3000 tahun, dan merupakan cikal bakal dari ilmu herbal TCM sekarang ini. Dalam kitab kuno tersebut tercatat setidaknya 365 jenis herbal. Yang kemudian pada tahun 1578, tepatnya pada masa dinasti ming, tabib terkenal saat itu, Tabib Li Shizhen, memperbaharui kitab tersebut, dan menambahkan ratusan herbal dan formula herbal, yang kemudian dirangkum dijadikan sebuah kitab bernama kitab Ben Cao Gang Mu.
Kitab inilah yang sampai saat ini masih menjadi pegangan bagi para herbalis maupun praktisi TCM di seluruh dunia. Dalam kitab tersebut terdapat setidaknya 1892 jenis herbal dan 11.096 jenis formula herbal.
Di jaman modern sekarang ini, pengobatan herbal tidak lagi melulu seperti pada jaman dahulu dengan merebus atau menggodok ramuan-ramuan herbal yang aromanya bisa sampai serumah dan rasanya yang pahit luar biasa. Saat ini sudah banyak ramuan herbal yang dijadikan bentuk pill, kapsul, bahkan ada yang sudah dalam bentuk infus atau injeksi.
Namun walau begitu, dari banyak penelitian yang dilakukan di Tiongkok terlihat bahwa efektifitas ramuan herbal godokan masih lebih unggul dibanding ramuan yang sama namun dalam bentuk pill atau kapsul.
Ngomongin herbal, kadang kala suka kita temukan herbal-herbal yang harganya cukup fantastis, sebagai contoh herbal cordyceps, si herbal jamur cacing yang banyak diburu ini, harganya sekitar 20 USD pergram nya, atau sekitar 20.000 USD perkilo alias sapektiao atau 300 juta Rupiah! Belum lagi yang namanya renshen/yongsem bahasa hokkian, alias si ginseng, yang sudah menjadi dewa dari segala macam herbal, dan sering dianggap sebagai obat awet muda dan panjang umur.
Ginseng semakin tua usianya memiliki khasiat semakin bagus, dan harganya pun juga semakin mahal, bisa mencapai seharga 17.000 USD atau sekitar 250 juta Rupiah untuk satu buah ginseng! Saking legendaris herbal tersebut dengan harga yang juga mevvah, akhirnya banyak orang yang membeli herbal tersebut bukan untuk tujuan pengobatan, melainkan menjadi cinderamata atau oleh-oleh, terutama bagi para laoban-laoban atau konglomerat-konglomerat besar.
Padahal, harga herbal yang mahal bukan berarti herbal itu memiliki khasiat dewa. Semua kembali lagi dari cara pemakaian herbal yang tepat sesuai dengan diagnosa penyakitnya. Dan setiap herbal itu memiliki arah dan tujuan yang spesifik pada organ yang dituju. Sebagai contoh si herbal condryceps atau si jamur cacing tadi, herbal tersebut memiliki khasiat untuk memperkuat enerji pada organ ginjal dan paru-paru, khususnya untuk mengatasi dahak dan sesak karena organ ginjal dan paru-paru yang lemah secara pemeriksaan chinese medicine.
Sehingga jika seseorang bukan memiliki penyakit pada organ tersebut, maka mau makan cordyceps sampai se-baskom akan percuma saja. Salah makan obat herbal atau makan obat herbal secara sembarangan, bukan saja tidak menyembuhkan penyakit, namun bisa membuat penyakit tersebut semakin parah. Sebagai contoh ginseng, yang bersifat sangat panas bagi tubuh, berkhasiat untuk menghangatkan serta menambah qi/enerji pada organ pencernaan, sehingga hanya cocok digunakan bagi penderita yang memiliki kelemahan qi pada organ pencernaan. Karena sifat ginseng tersebut yang sangat panas bagi tubuh, maka akan sangat berbahaya bagi orang-orang dengan penyakit bertipe panas atau yang memiliki kekurangan cairan.
Untuk sembuh dari penyakit tidak harus selalu menggunakan herbal yang mahal harganya. Jika diagnosanya tepat, bahkan herbal pasar sekalipun bisa menjadi obat yang sangat ampuh yang dapat menyembuhkan penyakit. Bahkan cukup sering dalam praktek saya menggunakan sayuran atau makanan sehari-hari sebagai obat, dan efeknya kadangkala bisa melampaui herbal top sekalipun, tapi tentu saja semua kembali ke diagnosa yang tepat, maka pengobatan pun bisa diberikan resep yang tepat pula.
Apakah herbal itu halal? Bagaimana dengan yg bervegetarian, apakah tetap dapat mengkonsumsi obat herbal? Bisa dikatakan 90% dari obat herbal berasal dari tumbuhan, dan hanya sebagian kecil herbal yang berasal dari hewan ataupun batuan mineral. Dan penggunaan herbal dalam terapi sangat fleksibel, jadi tidak hanya terbatas pada salah satu jenis herbal saja. Misalnya jika salah satu herbal tidak ada atau tidak bisa dikonsumsi, maka dapat diberikan jenis herbal lain dengan efek yang serupa. Sehingga aman bagi teman-teman yang bervegetarian ataupun yang muslim.
Lalu apakah semua herbal itu hanya ada di toko obat cina? Apakah harus impor dari Tiongkok? Memang karena ilmu pengobatan herbal ini asal muasalnya berasal dari Tiongkok, maka bahan-bahan yang dipakai tentu kebanyakan merupakan bahan-bahan yang banyak terdapat di sana. Namun bukan berarti di Indonesia tidak ada.
Sangat banyak bahan herbal Tiongkok yang juga terdapat di Indonesia, bahkan memiliki kualitas lebih bagus, seperti jahe, kunyit, lengkuas, itu semua jangan dianggap remeh, itu semua juga merupakan herbal yang sering dipakai dalam pengobatan TCM. Lalu ada juga kayu manis, akar manis, daun amis-amisan, daun sambiloto, adas, biji pala, semua itu juga merupakan herbal yang sangat umum dipakai dalam pengobatan TCM.
Indonesia sangat kaya sekali akan tanaman obat, hanya saja karena kurang diekspos atau kurang peminat sehingga terlupakan, karena masyarakat kita lebih suka memakai produk luar negeri yang terlihat lebih keren. Cukup sering saya temukan pasien ketika saya meresepkan herbal yang murah atau pasaran, mereka tampak seperti tidak percaya atau bingung. Lalu saya katakan memangnya penyakit tau kalau anda minum obat murah lalu tidak mau sembuh, lalu kalau minum obat mahal baru mau sembuh?? Semua kembali lagi ke pemeriksaan dan diagnosanya, jika memang penyakitnya bisa sembuh hanya dengan membutuhkan herbal yang harganya cuma 10 ribu, ngapain kita berikan yang harganya 10 juta??
Lalu kenapa ada herbal yang mahal dan ada yang murah? Herbal yang harganya mahal, ada beberapa faktor, antara lain, yang pertama adalah karena memang kualitasnya bagus. Jadi herbal yang sama namun dengan kualitas yang berbeda maka harga juga bisa berbeda. Sama seperti misal kita mencari bibit unggul untuk hewan ternak, atau produk tertentu dengan kualitas premium, tentu harganya lebih mahal dibanding kualitas standar.
Dan yang kedua, kenapa harganya mahal, karena herbal tersebut langka dan sulit didapatkan. Seperti contoh ginseng tadi, ginseng dengan kualitas bagus hanya tumbuh di pegunungan dan dataran tinggi dengan suhu udara yang dingin. Ada juga herbal niuhuang, yang menjadi komposisi utama ramuan herbal angong, ini mungkin sering teman-teman dengar herbal angong yang terkenal untuk mengobati penyakit stroke. Herbal angong ini mahal karena kandungan niuhuang di dalamnya. Apa itu niuhuang? Niuhuang adalah empedu sapi, lebih tepatnya adalah batu empedu sapi yang mengidap penyakit kuning. Bisa dibayangkan kan susahnya? Harus mencari sapi yang mengidap penyakit kuning dengan batu empedu, baru bisa diperoleh herbal niuhuang yg asli. Sehingga skrg cukup banyak herbal niuhuang buatan, bukan batu empedu asli, dengan harga yg lebih murah.
Mungkin itu sedikit gambaran dari saya mengenai penggunaan herbal dalam pengobatan. Obat apapun itu, entah itu obat kimia atau obat herbal, obat apapun jika tepat penggunaannya maka akan menjadi obat, namun jika salah penggunaannya maka obat pun bisa menjadi racun bagi tubuh.