Apakah Cina Siap untuk Perang Teritorial Terbuka?

Tulisan ini merupakan script yang saya gunakan untuk mengisi konten di segmen Cha Guan, AsumsiCo https://www.youtube.com/@Asumsiasumsi/playlists, selamat menikmati.

Teman-teman ku yang masih suka nebeng wifi tetangga.

Dengan tidak menunjukkan tanda-tanda konflik Rusia – Ukraina kapan akan berakhir, hal ini tentu membuat banyak pihak paranoid. Sejak dimulainya serangan-serangan strategis Rusia ke Ukraina dari Februari lalu, banyak pihak yang juga berpikir bahwa Presiden Putin sebetulnya sudah kalah perang, sudah kehilangan belasan ribu pasukannya, dan sudah tidak tau lagi mau ngapain terhadap Ukraina. Bahkan sempat kemarin ada pemberitaan Putin kena stroke, meninggal, dan lain sebagainya.

Tapi, mungkin juga Putin memang sedang bermain leg jangka panjang, yang itu sengaja dilakukannya supaya membuat potensi-potensi lawannya kehabisan kesabaran dan salah melangkah.

Bahasan kali ini akan gue persempit pada pertanyaan apakah Cina siap untuk perang teritorial terbuka? Dengan tentu mengesampingkan teori-teori perang yang gue sendiri juga engga belajar soal itu, atau lini-lini peperangan seperti perang siber, perang elektronik, perang biologis, dan lain sebagainya.

Gue akan coba kasih beberapa argumen yang nanti klean bisa ambil sendiri ya kesimpulannya.

Menurut artikel di The Atlantic November tahun 2021 kemarin, penulis Michael Bekley dan Hal Brands menyatakan bahwa sebetulnya Perang Dingin antara US dan Cina sebetulnya sedang terjadi. Tinggal bagaimana caranya supaya US bisa menahan Cina untuk memulai Perang betulan, tidak hanya sekedar Perang Dingin.

Menurut laman Global Firepower dotcom, pada tahun 2022 ini Cina menempati urutan ke 3 dengan kekuatan militer terbesar di dunia dari 142 negara. Cina punya personel tentara aktif sebanyak 2 juta tentara, ditambah dengan pasukan cadangannya sebanyak 510 ribu personel, mungkin memang akan terlihat menakutkan secara teori. Mereka menang dalam segi jumlah yang luar biasa. Tapi, berkaca dari konflik yang terjadi beberapa tahun terakhir misalnya di Suriah, Irak, Afghanistan, Nagorno-Kharabakh, hingga Ukraina, menunjukkan bahwa perang teritorial saat ini bukan hanya terkait dengan jumlah semata. Tetapi bagaimana dukungan penguasaan teknologi dan taktik pertempuran yang terintegrasi lah yang menentukan.

Jadi, jenderal-jenderal di Cina juga mereka sudah tau, mereka ga bisa pake taktik sekedar jumlah tentara dan voluntir perang jumlah banyak seperti yang mereka pake kalo ga salah ketika Perang Korea tahun 1950-1953 di mana waktu itu Cina sempat membantu di pihak Korea Utara versus Korea Selatan yang juga dibantu oleh US.

Penguasaan teknologi militer di Cina makin ke sini memang makin meningkat. Dengan yang paling ditakuti oleh US itu adalah kepemilikan kapal induk Liaoning 001 dan 002 yang basisnya kapal eks Sovyet, menunjukkan babak baru bahwa Cina juga tidak bisa dianggap remeh. Apalagi kalau lihat dari postingan-postingan CSIS Amerika terkait dengan banyak hal posisi-posisi pertahanan dan perkembangan industri pertahanan Cina, menunjukkan kalau Cina juga sedang membuat satu lagi kapal induk homemade nya sendiri yaitu tipe 003.

Selain kapal induk, Cina sendiri sudah bisa membuat jet tempur generasi ke 5 seperti Chengdu J20, rudal hipersonik DF-17, sistem radar antisiluman, teknologi drone perang, teknologi satelit orbit rendah dll yang kesemua itu tentu akan sangat membantu Cina dalam menghadapi suatu konfrontasi terbuka, secara teori.

Tapi, dari semua kecanggihan teknologi militer dalam negeri yang dimiliki oleh Cina, ya kembali lagi, itu semua belum teruji. Terakhir misalnya mereka pada 15 Juni tahun 2020 sempat clash di perbatasan dengan India, mereka malah “sepakat” untuk adu jotos aja dan tidak pakai senjata api. Dari Wikipedia kalo kita cek, biar gampang, ada 40 orang tentara India yang tewas, sedangkan dari Cina nya sekitar 20-35 yang tewas. Itu kalo ga salah juga sempat viral video-video nya, mereka baku hantam, pake tongkat, pake batu, adu jotos, dll.

Ketika Cina punya sekian banyak teknologi, tapi ga teruji, itu ya ibarat lu punya golok, tapi ga pernah dipake untuk nebang pohon, ga tau itu golok apa kuat untuk nebang atau cuma untuk hiasan aja kan.

Berbeda misalnya dengan strategi cengli nya Turkiye yang dia dengan drone Bayraktar nya misalnya, sudah teruji di beberapa peperangan. Tidak hanya dipake oleh militer Turkiye itu sendiri, tapi sudah diakui oleh militer negara-negara luar. Di dalam negeri mereka, mereka pakai Bayraktar untuk menumpas gerakan-gerakan militan Kurdi, di luar negara nya, mereka sudah mendapatkan banyak traction, dan memang sudah dibeli oleh negara-negara seperti Etiopia, Kirgistan, Libya, Maroko, Pakistan, Niger, Qatar, dan lain-lain.

Walaupun dalam hal ini misalnya drone buatan Cina yang bernama Wing Loong sudah dibeli beberapa negara-negara Teluk, tapi kehebatan penggunaannya belum disaksikan oleh publik global.

Tentara Cina atau yang biasa disebut PLA, People’s Liberation Army, itu terakhir mereka perang juga sudah lama sekali. Terakhir ketika ada perselisihan border dengan Myanmar, Kamboja, atau waktu sempat ribut dengan Vietnam di tahun 1979 itu pun juga sudah lama sekali.

Jadi, kalau mau tanya emang tentara mereka siap untuk perang beneran, gue rasa sih engga. Salah satu dampak positif walaupun ini adalah hal yang sangat gue benci, tentara US bagaimana pun mereka terus-menerus melatih skill nya di peperangan-peperangan betulan, bukan hanya latihan-latihan bersama. Sehingga ga heran, sampai saat ini, TNI kita banyaknya kalau latihan bareng itu dengan US Army, Navy Seals, US Pacific Command, dan lain sebagainya.

Merujuk pada pemberitaan di media masa, misalnya CNN Indonesia, terakhir TNI melaksanakan latihan perang bareng dengan tentara US itu di ajang Garuda Shield tahun 2021 lalu.

Balik lagi soal golok tadi, kalopun Cina punya tentara yang okelah fisiknya dicetak, teknologi militernya ditingkatkan, tapi kalo ga pernah proven di battleground, buat apa? Wong Rusia yang ibaratnya juga sering masuk ke konflik betulan seperti di Suriah aja masih keok kok di konflik Ukraina, tidak betul-betul bisa diminimalisir kan kerugian jumlah tentara mereka yang tewas di sana, itu saja yang sudah sering perang betulan, dan kita semua juga tau track record Rusia soal penguasaan teknologi militer.

Mungkin yang betulan menghadapi musuh di lapangan di luar teritori mereka adalah para delegasi pasukan keamanan PBB yang berasal dari Cina. Cuma masa iya lu misalnya perang beneran abis itu cuma turunin pasukan lu yang pernah tugas jadi pasukan keamanan PBB. Pasukan keamanan PBB yang berasal dari PLA cuma 2.248 orang. TNI-Polri kita aja punya 2.818 orang personil yang dikirimkan untuk menjadi pasukan perdamaian PBB.

Jadi, gue dalam hal ini sangat menyangsikan ya tentara-tentara PLA nya Cina itu betulan siap atau engga kalau ada perang teritorial. Jangan-jangan perang baru mulai, eeeeh malah langsung nyerah semua pas tau pertempuran yang sebetulnya itu sangatlah mengerikan, atau pas mungkin tau jendral-jendral mereka ternyata banyak bergelimang harta dan ya tidak ikut terjun ke medan perang bersama mereka.

Karena tentu hal yang terkait dengan moral bertempur untuk mempertaruhkan nyawa bukanlah hal yang sepele. Apalagi kalau kita lihat, misalnya perang teritorial zaman sekarang juga sebetulnya sudah cukup absurd, dalam arti batas-batas wilayah apa sih sebetulnya yang ingin dipertahankan? Toh dengan teknologi, sebetulnya batas-batas wilayah negara itu juga semakin semu. Beda dengan misalnya jaman dulu mereka ketika Perang Saudara dengan Kuomintang, karena ada urusan perut yang harus dibela di situ. Ada ideologi terkait dengan kemakmuran bersama yang ingin mereka capai di situ. Atau pada waktu itu ya memang karena betulan ingin mengusir Jepang dan negara-negara kolonial lainnya.

Tapi, kalau sekarang, gue sebagai alumni Cina sendiri ya melihat, dan sudah di episode-episode Cha Guan yang lain kita juga bilang bahwa Cina sendiri sudah sebetulnya secara riil adalah negara kapitalis kok, cuma bungkusannya saja Maois. Dengan kalo kita melihat secara riil juga masyarakat mereka ideologi nya materi dan uang kok, bukan ideologi-ideologi yang kuat misalnya terkait ketuhanan atau apa. Apalagi misalnya waktu prajurit-prajurit muda PLA yang umurnya masih belasan taun, ketika tau kesenjangan sosial di Cina itu juga masih besar, di sisi lain mereka melihat orang super duper kaya makin kaya, yang miskin makin miskin, dia sebagai prajurit cuma bisa ngebatin: sebenernya gue lagi ngebelain siapa?

Aspek moral itu juga tentu mungkin menjadi isu ya di tentara US juga. Di mana banyak sekali satir yang bisa kita temui tatkala di US sendiri banyak kesenjangan sosial, banyak veteran yang tidak diperhatikan dan akhirnya menjadi kaum marginal, dan lain sebagainya.

Selanjutnya, baik itu para pemimpin di tingkat elit maupun di akar rumput, di Cina sendiri menganut paham Konfusianisme sebagai nafas keseharian mereka. Sepemahaman gue soal Konfusianisme, nilai-nilai yang ada adalah berkenaan dengan bagaimana berkelakuan baik sesama manusia, menjaga hubungan yang harmonis, dan mencegah terjadinya eskalasi-eskalasi konflik antarsesama.

Dengan begitu, pemahaman Konfusianisme melihat suatu pertempuran atau peperangan yang memakan korban jiwa, sangatlah tidak baik. Dengan mengedepankan nilai-nilai kebijaksanaan dan moral yang luhur, agaknya sulit untuk membayangkan apabila tentara PLA akan menjadi agresif di medan pertempuran di saat isi kepalanya adalah hal-hal yang baik dan saling mengasihi antarsesama dari nilai-nilai Konfusianisme itu sendiri. Ya kecuali mereka cabut dulu itu pemahaman Konfusianisme nya dari benak para prajurit mereka.

Kalau lah kita tarik ini menjadi persoalan soal strategi Sun Tzu dengan Art of War nya, gue rasa juga ga semua tentara Cina juga pernah baca atau paham soal itu. Selain strategi Sun Tzu ya tidak memasukkan elemen kemajuan teknologi dan kemungkinan-kemungkinan lain yang kita hidup saat ini temukan. Strategi-strategi Sun Tzu mungkin akan sangat baik digunakan malah untuk menjadi strategi bisnis, karena strategi bisnis tidak sama dengan konflik fisik yang bisa merenggut nyawa. Gue sih ga yakin ya bisa dipake di pertempuran modern seperti sekarang.

Dengan kampanye persepsi bahwa US adalah pahlawan dunia, polisi dunia, punya kehebatan ina itu. Di satu sisi negara-negara yang berlawanan arus dengan US dan sekutunya adalah para setan nya, tentu secara persepsi Cina akan dipandang salah walaupun ada sebuah konflik peperangan yang bukan Cina duluan yang memulai. Persepsi yang sudah disetting sedemikian rupa, terima kasih kepada film-film Hollywood, Cina tentu akan kalah perang opini duluan karena mereka adalah the bad guy untuk setiap situasi.

Terakhir, argumen gue adalah rasa takut akan kehilangan materi dan kemungkinan akan terjadi penolakan besar-besaran di internal negara mereka sendiri kalau-kalau isu perang teritorial terbuka betul-betul sudah di depan mata. Dengan sudah nyaman nya masyarakat Cina menikmati GDP per kapita yang tinggi, hidup makmur, pake mobil bagus, tas mahal, hape nya juga cuma mau punya iPhone terbaru, beli Jordan berasa beli cilok, tentu dengan potret masyarakat Cina modern saat ini akan sangat mengerikan buat mereka membayangkan betapa luluh lantaknya dan berapa besar kerugian yang akan timbul akibat sebuah peperangan terbuka.

Jadi, kalau mereka pikir-pikir sendiri, misalnya terkait dengan rencana mereka untuk “unifikasi” Taiwan, yang mana juga ga mungkin dilakukan secara non konflik terbuka, apakah sepadan dengan potensi kerugian dan kengerian yang juga akan dirasakan oleh para warga sipil Cina itu sendiri.

Apalagi Cina itu kan satu daratan luas ya, notabenenya lebih gampang untuk jadi lahan bertempur, dibandingkan dengan negara-negara kepulauan yang seperti kita ini punya batas-batas alami lautan. Makanya di episode kemarin yang soal konflik Ukraina – Rusia, gue bilang kenapa sih ga perang jaman sekarang itu ngikutin jaman Abad Pertengahan dulu. Di mana 2 kubu yang berseteru menyepakati lokasi perang jauh dari warga sipil, dan betul-betul hanya menggunakan senjata yang tidak membuat korban jiwa kolateral, seperti pedang, panah, tombak, dll.

Kesimpulan gue dengan pertanyaan tadi di awal adalah Cina tidak siap dan tidak akan mau untuk masuk ke jurang peperangan teritorial terbuka. Ya mudah-mudahan juga jangan terjadi ya. Cukuplah para elit global ini ga usah egois memenuhi syahwat pertumpahan darahnya. Karena gue rasa kalo emang peperangan terjadi terus-menerus, sebetulnya yang sudah menguasai dunia ini syaiton, bukan lah lagi manusia yang seharusnya memiliki akal, nurani, dan panduan-panduan nilai universal yang baik.

Leave a comment