Kalau rekan-rekan semua pernah dengar soal meriam karbit di Pontianak, rekan-rekan juga tau bahwa meriam-meriam kayu dan bambu ukuran besar-besar itu hanya akan dipakai ketika menyambut Lebaran setiap tahun. Kalau tidak dipakai, meriam-meriam itu biasanya disimpan di dalam sungai supaya setiap tahun bisa dipakai lagi. Dengan momentum yang tepat, tradisi menyalakan meriam karbit di Pontianak akan membawa suasana yang syahdu dan dinanti-nanti oleh setiap orang di sana.
Namun, penetapan Anies Baswedan ini nampaknya, paling engga menurut gue, momentum nya seakan terlalu terburu-buru. Betapa tidak, karena pada awalnya Partai Nasdem berencana mengumumkan Capres versi partai mereka di bulan November. Namun tanggal 3 Oktober kemarin agaknya kalau dianalogikan seperti meriam karbit tadi yang terkesan diangkat buru-buru, padahal Lebaran nya masih jauh. Alhasil sudah mulai muncul riak-riak di internal Partai Nasdem sendiri soal keputusan mencalonkan Anies Baswedan sebagai Capres mereka.
Cuma, karena ini segmen Cha Guan, kita mengusung semacam jargon no Cina no party, hahaha. Maksudnya beberapa waktu lalu politisi Nasdem Zulfan Lindan berseloroh kalau seandainya calon presiden nya adalah Anies – Andika, apakah secara langsung atau tidak langsung akan menguntungkan Amerika Serikat. Malah beliau mengambil kesimpulannya hanya karena Anies Baswedan ga pernah melakukan kunjungan ke Rusia maupun ke Cina. Dan kemungkinan bahwa Anies Baswedan akan menjadi the second Golden Boy.
Bahkan beliau menambahkan lagi kalau figur kandidat calon presiden lain seperti Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dianggapnya bisa menjadi sosok yang menguntungkan China dan Rusia. Duh, itu kesimpulan dari mana ya Pak?
Kalau kita tarik lagi ke tahun 2017, malah ada salah satu pemberitaan di website Jawa Pos, bilang kalau mereka mengutip dari Wikileaks terkait dengan kawat diplomatik ‘sensitive but unclassified’ dari Kedutaan US di Jakarta kepada CIA, menuliskan bahwa “Baswedan adalah teman bagi AS, baik secara pribadi maupun dalam pernyataan publik”. Hahaha, kira-kira kalo gue sama Basuki di kawat diplomatiknya mereka dibilang apa ya, bingung kali mereka. Yang satu botak, yang satu pake kopeah. Hahaha.
Anyways!
Kembali ke soal persoalan apakah kalau Anies Baswedan menjadi Presiden maka niscaya Cina akan ketar-ketir. Bahkan untuk rekan-rekan yang sudah mendapatkan sebaran pesan di WA dari seorang Doktor yang berinisial SN, lebih tendensius lagi di tulisan itu bilang bahwa kedekatan Anies dengan Barat tentu mencemaskan Peking yang selama ini berusaha mengendalikan Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya. Widih, serem bat yak!
Lalu di pesan itu juga tertulis “soal geopolitik, Indonesia memang sampai saat ini belum melihat untungnya bersekutu dengan Peking. Baik dari sisi pembangunan maupun pengentasan kemiskinan. Yang berkembang selama ini malah kemiskinan dan pengangguran yang terus membesar, berkuasanya oligarki, hutang melangit, munculnya kebencian terhadap ulama, hancurnya demokrasi dan hal-hak asasi manusia serta penangkapan tokoh-tokoh oposisi tanpa tuduhan yang jelas. Sehingga, wajar saja kehadiran Peking di Indonesia kurang populer dan sulit dipertahankan. RRC harus refleksi diri dalam membangun hubungan yang baik dengan Indonesia ke depan. Jika meniru era Sukarno Poros Jakarta-Beijing, tentu dapat dimaklumi, karena persekutuan yang dibangun adalah untuk kesejahteraan kaum proletar.”
Well, kayaknya beliau belum liat episode Cha Guan yang kemarin sebelum tulis pesan berantai yang apakah benar dia yang menuliskan atau namanya dia yang dicatut, yang jelas udah sampe lah itu pesan WA ke gue.
Kebiasaan untuk bikin gado-gado isu seperti itu juga yang bikin pemberitaan dan pembentukan persepsi di masyarakat menjadi salah. Tanpa negara lain mengintervensi kebijakan-kebijakan negara kita, apakah itu artinya secara implementasi kebijakan akan menjadi lebih baik?
Karena sering nya yang disebut dengan oligarki itu ya orang Indonesia sendiri, yang kebetulan dekat dengan kekuasaan, lalu aji mumpung untuk mengeruk keuntungan untuk mereka sendiri. Jadi, belum tentu misalnya apakah ini karena Cina sebagai negara sudah melakukan setting tertentu terhadap Indonesia atau gimana.
Dalam berbagai macam kesempatan, apalagi kalau melihat rilis-rilis dari Kementerian Luar Negeri Cina, mereka akan berpatokan pada the Five Principles of Peaceful Co-existence. Yang kelima poin itu antara lain soal saling menghormati integritas dan kedaulatan teritorial, saling non-agresi, saling tidak campur tangan dalam urusan internal negara masing-masing, kesetaraan dan kerjasama untuk keuntungan bersama, dan hidup berdampingan secara damai dalam konteks negara.
Gue lebih tertarik membahas ini dengan melihat dari segi pemerintah Cina nya sih ya. Di episode kemarin soal strategi Cina menguasai Indonesia, gue udah coba kasih argumen bahwa mereka ini sebetulnya ga punya strategi yang gimana-gimana. Karena asal temen-temen juga tau kalau di Cina itu birokrasi nya ya kaku juga. Ga bisa disamain sama misalnya manuver-manuver lobi atau perluasan pengaruh sampai ke grassroot untuk misalnya kedutaan US, Aussie, atau negara-negara Barat lainnya.
Jadi, dengan statement-statement bahwa Peking atau Beijing seharusnya begini atau begitu dan lain sebagainya, lha wong kita yang alumni Cina dan praktisi juga ga didenger kok sama mereka. Apalagi ditambah dengan Five Principle of Peaceful Coexistence tadi, sialnya malah dilihat kelima pilar itu sebagai pagar listrik, mendekati pagar nya aja mereka udah ga berani, takut kesetrum.
Padahal, itu kan koridor-koridor aja sih sebetulnya, soal implementasi dan secara riil apakah Kedutaan Cina bisa melakukan manuver ke lini atas, tengah, maupun grassroot di Indonesia, seharusnya ga ada yang perlu dikhawatirkan, bukan? Ya tergantung kegiatannya apa, ya kalo memasarkan ideologi tentu nanti kena semprit. Cuma kalo kegiatannya soal lingkungan, kesehatan, pengentasan kemiskinan, kerja sama pendidikan, kerja sama sister city, dan lain sebagainya ya fine-fine aja.
Tapi terus gimana, jadi Cina bakal ketar-ketir ga nih kalo Anies Baswedan Presiden nya?
Bisa iya, bisa engga.
Iya pun dibagi jadi 2. Iya yang pertama itu kalau nanti udah makin deket ke Pemilu, ada semakin kuat sinyalemen dukungan US dan negara-negara Barat lain yang merapat ke kubu Anies Baswedan dan pasangannya. Apalagi kesan bahwa dalam 2 periode pemerintahan Jokowi ini seakan memberikan karpet merah bagi investor Cina. Padahal sebetulnya engga juga, emang cuman dasar perusahaan US dan Eropa aja yang ga yakin sama iklim investasi di Indonesia kan. Belum lagi ya tadi para oknum oligarki yang sebetulnya tujuannya aji mumpung aja jadi makannya bisa cuan.
Iya yang kedua, semakin dinamis perpolitikan di Indonesia, makin ga paham aja Kedutaan Cina gimana cara ngebungkus urusan-urusan di Indonesia. Jadi ya kemungkinan Cina bakal ketar-ketir dalam arti mereka akan semakin bingung bagaimana bisa ya seorang Anies Baswedan yang dasarnya bukan pengurus parpol, dulu lawannya Ahok, didukung sama yang putih-putih begitu, sekarang malah berbalik didukung sama US dan Barat. Hal-hal yang begitu menurut gue perlu pemahaman yang dalam. Pemahaman yang dalam hanya bisa didapatkan oleh Kedutaan Cina melalui interaksi yang holistik, bukan cuman serok atas doang kalo bahasa gue. Lu ga akan bisa memahami fenomena misalnya kayak Prabowo kemarin bisa jadi Menteri padahal lawan politik Jokowi di Pilpres kemarin. Hal ini karena sesederhana di Cina ga ada barang yang begitu, bukan karena ga ada demokrasi nya, cuma politik Indonesia seringnya memang khas cuma terjadi di negara kita aja.
Apalagi kemungkinan bahwa kebijakan-kebijakan terkait dengan investasi maupun regulasi-regulasi lain yang nantinya akan dirubah, dan itu mungkin aja bisa menyulitkan para investor dan calon investor yang berasal dari Cina.
Adapun misalnya Cina engga akan ketar-ketir, ya itu nanti akan terlihat dari kebijakan-kebijakan nya Pak Anies sendiri, seumpama beliau beneran jadi Presiden ya. Jadi ya ga akan ngaruh juga, karena posisi Kedutaan Cina dan segenap atribut pemerintahan Cina yang punya kepentingan di Indonesia, sedari awal mereka udah sampaikan kalau mereka ga akan intervensi perpolitikan dalam negeri orang lain.
Kedutaan Cina mungkin akan analisisnya nanti kalaupun Anies Baswedan jadi Presiden nya, mereka akan liat siapa Wapresnya, siapa Menko nya, siapa Kepala KSP nya dan lain-lain. Baru nanti dari situ mereka susun strategi pendekatan lagi dari nol.
Cuman, masalahnya kan menjadi sulit kalau yang menjadi pertaruhannya ini adalah Cina dalam pemaknaan negara mereka yang besar. Kecuali misalnya Cina itu siapa misalnya negara Nepal gitu, atau Leshoto di Afrika sana, ya ga ada kepentingan yang gimana signifikan sama kita.
Kepentingan Cina untuk investasi dan mengambil untung dari sektor-sektor ekstraktif di Indonesia masih sangat besar. Apalagi nanti kabarnya bakal ada beberapa sektor komoditas lain yang dilarang untuk diekspor mentah seperti nikel. Jadi, kalo mereka bener-bener polos atau pura-pura ga ngerti apa gimana, nanti giliran banyak kebijakan yang berubah, mereka sendiri yang bakal mencak-mencak di belakang. Padahal sedari awal misalnya dalam hal ini Atase Politik Kedutaan Cina juga bisa memberikan gambaran yang utuh untuk dilaporkan ke Beijing soal dinamika perpolitikan di Indonesia. Mereka ini kebiasaan ABS aja sih, semua laporan harus terlihat baik, yailah, ke laut aje!
Tapi yang jelas memang investasi Cina ke Indonesia sudah dalam tren penurunan. Faktor nya banyak ya, ada pandemi, perang Rusia – Ukraina, dan tentu Pemilu. Yang ketiga faktor itu membuat banyak calon investor mereka coba review kembali rencana-rencana investasi mereka ke luar. Menurut laman web American Enterprise Institute, mereka punya data China Global Investment Tracker, untuk ke Indonesia tahun 2019 kemarin nilai investasi Cina sebesar 7500 an Milyar USD, kemudian 2020 turun ke angka 5700 an Milyar USD, tahun 2021 turun lagi ke 4800 an Milyar USD, terus untuk tahun ini dan ini sudah Oktober, catatan mereka investasi Cina ke Indonesia turun ke angka 1280 Milyar USD.
Artinya ya jangankan soal sentimen Anies Baswedan jadi Presiden, wong dari tren jumlah investasi mereka juga makin ke sini makin turun. Pertanyaannya, apakah akan naik? Ya tergantung gimana nanti hasil Pilpres 2024. Rata-rata negara asal investor juga udah pada tau kok kalau mau investasi di Indonesia jangan waktu mau Pilpres, gambling nya tinggi banget.
Ya kita liat aja nanti ya perkembangan urusan-urusan Pilpres duniawi ini. Bakal makin ke sini atau makin ke sana.