Tulisan ini merupakan script yang saya gunakan untuk mengisi konten di segmen Cha Guan, AsumsiCo https://www.youtube.com/@Asumsiasumsi/playlists, selamat menikmati.
Dalam rangka peringatan 100 tahun kemerdekaan Indonesia nanti pada tahun 2045, sudah barang tentu akan banyak perencanaan selebrasi, festival, beragam pertunjukan seni dan budaya, roadshow para pegiat otomotif, upacara bendera di puncak-puncak tertinggi di Indonesia, dan lain sebagainya. Namun, karena ini masih tahun 2023, agaknya tahun 2045 masih cukup lama dan masih ada waktu untuk kita supaya bisa berbenah. Sehingga jangan sampai nanti setelah selebrasi-selebrasi 100 tahun kemerdekaan Indonesia, selesai acara, eh, tetep aja mental buang sampah sembarangan nya masih sama kayak tahun 1990an. Kalo gitu mah, apanya yang merdeka?
Peringatan 100 tahun Indonesia nantinya menurut gue betul-betul harus menjadi tonggak kebangkitan Indonesia yang sesungguhnya. Harusnya pada nanti tahun 2045 itu sudah banyak PR-PR yang kita selesaikan, sehingga Indonesia betul-betul bisa menjadi sebuah negara pemain, bukan hanya penonton lagi. Tapi, kalau PR-PR tersebut ternyata nanti belum juga rampung, ya terpaksa tunggu sampe tahun 2145 dulu kali ya.
Habis, mau gimana? Tahun 2045 itu mungkin adalah tahun yang dirasa masih akan sangat lama. Tapi, kalau kita khususnya generasi X maupun milenial, ngerasa ga sih tahun 2000 itu kayak baru kemarin? Sebetulnya sebentar aja kan? Ini udah tahun segini, tapi dibandingkan tahun 2000 lalu, apakah kita betul-betul ngerasain perbedaan yang signifikan mulai dari hal-hal yang mendasar dulu deh, jangan kita liat pembangunan infrastruktur, itu sih pasti banyak perubahan ya.
Ya tadi misalnya, soal mental buang sampah di tengah jalan, baru beli mobil lantas satu jalan raya itu rasanya udah kayak tong sampah gede. Atau misalnya yang masih suka ngerokok sambil naik motor terus bara api nya terbang kemana-mana ke belakang, pas ditegor malah galakan dia nya. Atau misalnya soal budaya antri, budaya tepat waktu, budaya etos kerja, dan lain sebagainya yang menurut gue akan lebih penting dibandingkan alokasi APBN untuk riset dan pengembangan. Ya penting juga sih, tapi apa guna nya kita hidup macam di Wakanda begitu, tapi attitude masih mental-mental penduduk ghetto.
Kalau temen-temen udah baca ada yang namanya dokumen Indonesia 2045 yang dibuat dan disusun oleh Bappenas pada tahun 2019 kemarin. Dokumen itu juga ditandatangani oleh Presiden Jokowi supaya keliatannya lebih angker aja gitu.
Di dokumen tersebut baik di dokumen utama maupun ringkasannya, ada juga tempelan foto dari tulisan tangan Presiden Jokowi soal Impian Indonesia 2015 – 2085. Dari tulisan tangan Presiden Jokowi itu, paling tidak ada 7 poin impian yang beliau tuliskan ketika beliau ada di Merauke pada 30 Desember 2015 lalu.
Dokumen setebal 158 halaman itu juga bercerita banyak mengenai apa-apa yang akan terjadi dan akan dilakukan menuju Visi Indonesia 2045. Cuma, di dalam dokumen itu kok ga ada penjelasan soal IKN Nusantara ya? Adanya soal daya dukung Pulau Jawa yang semakin menurun, dan perlunya pemindahan pusat pemerintahan ke luar Pulau Jawa. Mungkin nanti ada versi revisiannya kali ya. Kayak skripsi ente yang sampe sekarang udah belasan tahun lulus belum juga direvisi kan? Hahaha.
Anyways.
Dalam dokumen ringkasan eksekutif, setelah bagian penjabaran Visi Indonesia 2045, terdapat penjelasan singkat terkait dengan megatren dunia 2045. Mulai dari demografi global, urbanisasi dunia, peranan emerging economies, persaingan sumber daya alam, perubahan iklim, sampai pada perubahan geopolitik. Menariknya di bagian deskripsi singkat megatren dunia 2045 itu dituliskan soal perubahan geopolitik terus berlanjut ke depan dengan meningkatnya peranan Cina, kerentanan di Kawasan Timur Tengah, serta meningkatnya kelas baru dan kelompok tertentu.
Jelas ya, jadi gue bahas bahasan ini juga bukan karena cocoklogi, wong di dokumen Bappenas aja Cina juga disebut-sebut kok.
Lantas, paling tidak untuk menghadapi megatren dunia 2045 tadi, ada yang disebut pilar-pilar pembangunan Indonesia 2045. Antara lain terkait dengan pembangunan manusia dan penguasaan iptek, pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, pemerataan pembangunan, dan pemantapan ketahanan nasional dan tata kelola kepemerintahan.
Skenario-skenario makro yang tertuang pada dokumen tersebut juga antara lain terkait dengan bahwa Indonesia akan menjadi negara PDB terbesar ke 5 di dunia pada 2045, PDB per kapita diprediksi akan berkisar pada 23 ribu USD, dan akan ada sebanyak 223 juta orang Indonesia yang berada pada kelas pendapatan menengah.
Begitu pun terkait dengan secara demografi atau kependudukannya. Prediksi Bappenas pada tahun 2045 nanti populasi Indonesia akan berjumlah 318,9 juta jiwa. Hal tersebut juga ditopang dengan angka harapan hidup yang lebih tinggi pada usia 75,5 tahun, dari yang sebelumnya usia 69,8 tahun pada kalkulasi 2010 lalu. Hal ini tentu merupakan modal yang sangat baik. Mengingat negara Indonesia yang maju harus ditopang dengan populasi yang tidak stagnan apalagi menurun. Sehingga, sebaran SDM Indonesia di kancah global harapannya juga akan makin terasa.
Lalu, bagaimana dengan Cina?
Karena Cina atau RRT berdiri pada tahun 1949, maka perayaan seabad mereka nanti baru pada tahun 2049. Namun, sebetulnya Cina sudah memiliki perencanaan-perencanaan jangka pendek yang mereka buat guna satu per satu mereformasi atau meningkatkan kualitas industri maupun sektor-sektor lain yang mereka miliki. Salah satunya adalah judul Made in China 2025 atau yang bisa disingkat MIC 2025.
Pada pencanangan program MIC 2025 itu, Cina sendiri karena kesemua program-program pemerintah pusatnya mengacu pada The Five-year Plan atau kalau di bahasa kita Repelita, maka sebetulnya dia mau bikin nama-nama aneh begitu umumnya hanya bertujuan gimmick dan gampang dijual kalau bikin event. Karena kesemua perencanaan itu mereka sudah punya basis arahnya, dan mau itu Presiden, Perdana Menteri, Kabinet, dan lain sebagainya hanya mengikuti saja. Kalau tidak ada kejadian-kejadian force majeure misalnya seperti pandemi, maka niscaya Cina sendiri akan tetap on-the-track untuk menyongsong kemajuan-kemajuan mereka.
Cina sendiri saat ini sedang berada di Repelita ke 14 yang didesain untuk arah pembangunan tahun 2021 – 2025. Jadi, nanti kalau tahun 2045 berarti mereka sudah masuk Repelita ke 18 dan Repelita ke 19 ketika 100 tahun RRT dirayakan.
Bukannya ngebanding-bandingin atau mendang-mending. Tapi kan ente-ente semua tau di negara berflower kita ini saban ganti Presiden, ganti juga semua jeroan nya. Alhasil macam Bappenas udah belepotan bikin perencanaan canggih-canggih begitu, ya rata-rata nunggu arahan Bapak atau nunggu arahan Ibu. Ya walaupun di Cina juga ada sih begitu-begitunya, ABS nya masih ada, tapi ketika ini soal arah pembangunan nasional mereka, mereka menghormati produk-produk koridor repelita yang sudah dibuat oleh para senior mereka sebelumnya.
Ya memang, di Cina sendiri partai penguasa itu cuma 1. Tapi, bukan berarti di dalam satu partai yang sangat gemuk itu tidak ada perbedaan pandangan dan pendapat kan? Tapi, ketika itu kesepakatan soal Repelita yang harus diambil untuk digunakan sebagai koridor dan panduan pembangunan nasional mereka, istilahnya para elit politik di Cina ‘agree to disagree’ untuk beberapa hal misalnya mereka punya selisih secara internal. Kalau di Indonesia, banyaknya partai yang menjadi latar belakang politik para elit eksekutif dan legislatif, untuk menemukan kondisi ‘agree to disagree’ akan menjadi sulit. Jadi ga heran kalau panduan pembangunan nasional kita bisa direvisi sewaktu-waktu.
Kembali ke MIC 2025 tadi. Paling engga, jargon ini dijual supaya baik dari sisi internal Cina nya sendiri dan pasar global dapat paling tidak lebih menerima kehadiran produk-produk teknologi tinggi yang datangnya dari Cina. Ya contohnya, sekarang Wuling Air EV udah banyak kan ya. Bus Transjakarta yang EV juga udah pake barang Cina juga kan. Nah, kenapa bisa ada progres seperti itu? Salah satunya memang karena MIC 2025 tadi.
Selain soal alokasi RnD yang lebih banyak, pemerintah Cina menelurkan banyak insentif yang berupa kelonggaran-kelonggaran. Bentuk insentif-insentif itu banyak diterima oleh dunia industri dalam bentuk yang beragam. Seperti soal subsidi RnD, subsidi pajak, subsidi ongkos logistik, serta bentuk-bentuk insentif lainnya yang memanjakan sektor industri di bidang-bidang yang memang sedang dikembangkan dalam skema program MIC 2025 itu tadi.
Sektor-sektor industri yang mendapatkan special treatments tadi antara lain bidang IT, robotik, energi hijau dan kendaraan hijau, peralatan antariksa, teknologi rekayasa kelautan, peralatan perkeretaapian, peralatan sumber tenaga, material-material baru, obat dan teknologi pengobatan, serta permesinan sektor pertanian.
Wah, gue ngiri dah sama start-up start-up di Cina dengan sekian banyak insentif begitu. Kalau kita mungkin masih tunggu dulu ya setelah 2045 nanti mungkin, negara baru ada budget nya untuk sawer insentif-insentif seperti yang Cina lakukan untuk industri mereka.
Jadi, jangan heran kalau misalnya temen-temen juga pernah liat di Youtube atau di mana, ada perusahaan mobil namanya Xpeng, yang mereka fokus untuk mengembangkan EV bahkan mobil terbang, dan dia lempar produknya langsung ke Norwegia, karena memang sengaja menyasar pasar Skandinavia sana. Nah, perusahaan macam Xpeng ini merupakan salah satu perusahaan yang disinyalir menerima banyak insentif tadi. Jadi, kasarnya walaupun mobilnya kaga laku, tapi dari pemerintah Cina mereka udah bisa dapet banyak input, dan itu tentu model bisnis yang menarik kan?
Cuma memang kalau kita bahas model bisnis begitu, di mana intervensi atau peranan pemerintah terlalu besar, ya sebetulnya ada plus dan minus nya juga ya. Cuma, itu mungkin gue akan bahas di episode lain ya.
Nah, itu tadi sedikit banyak soal MIC 2025 nya Cina. Kalo balik lagi ke tahun 2045 dan 2049, kira-kira Cina akan melakukan apa aja?
Menurut Ma Chi (2017), pada tahun 2045 Cina merencanakan untuk tumbuh menjadi pemimpin global dalam teknologi luar angkasa. Direncanakan Cina dapat melakukan eksplorasi ruang angkasa terkoordinasi manusia-komputer dalam skala besar. Dengan transportasi ruang angkasa yang canggih, Cina akan dapat melakukan eksplorasi skala besar di planet, asteroid dan komet di tata surya.
Menurut ODI yang merupakan think tank global independen, pada websitenya ODI dot ORG, pada tahun 2045, pemerintah Tiongkok bertujuan untuk membangun negara sosialis modern yang makmur, kuat, demokratis, maju secara budaya, dan harmonis. Sedangkan menurut Ivaylo (2021), Cina juga memiliki perencanaan besar pada tahun 2049. Cina memiliki goal atu tujuan yang berbunyi “the Great Rejuvenation of the Chinese Nation”. Rencana besar atau tujuan Cina untuk tahun 2049 adalah memperluas kekuatan nasionalnya, meningkatkan sistem pemerintahannya, dan merevisi tatanan nasional.
Kalo dari terawangan gue sih, Cina bisa menjadi negara yang lebih kuat lagi kedepannya karena kestabilan politik dan keamanan dalam negeri nya. Banyak perusahaan Cina yang akan kemudian terus ekspansi ke negara-negara Afrika, dengan adanya Belt and Road Initiative yang sudah diprakarsa sejak tahun 2013, tentu nanti tahun 2045 atau 2049 skema tersebut sudah bisa dibilang matang.
Dengan stabilitas ekonomi dan politik, niscaya Cina akan menjadi negara yang memiliki tulang punggung ekonomi dari sektor servis dan inovasi.
Nah, tinggal kita aja nih PR nya. Gue harap sih presiden-presiden berikutnya juga melanjutkan kebijakan-kebijakan Presiden Jokowi sekarang terutama soal pelarangan ekspor bahan mentah. Sehingga Indonesia bisa punya cukup pundi-pundi walaupun belum bisa menyalip Cina, tapi paling engga kita bisa pake prinsip “slipstream” di belakang Cina, supaya kita bisa lebih mudah tumbuh menjadi negara yang dicita-citakan bersama.