Filantropi dan Budaya Dermawan di Cina

Tulisan ini merupakan script yang saya gunakan untuk mengisi konten di segmen Cha Guan, AsumsiCo https://www.youtube.com/@Asumsiasumsi/playlists, selamat menikmati.

Hidup di Indonesia emang gampang-gampang susah ya, sahabat-sahabat ku yang supreme. Orang baik sering dikibulin. Orang pinjemin uang, yang dipinjemin malah yang lebih galak pas ditagih. Pas kampanye bilangnya A, tapi ga direalisasikan waktu yang bersangkutan ngejabat, malah ngembat duit rakyat, akhirnya dia juga selamat.

Mau jadi orang dermawan, malah sering ada investigasi kalau orang-orang yang mengemis itu sebetulnya punya rumah dan mobil di kampung nya, tatkala yang kasih sumbangan di jalan gaji pas-pasan. Eh, malah kemaren rame lagi kasus soal organisasi filantropi itu ya.

Kalo gue pribadi sih ga pernah urusan sama organisasi tersebut, ga pernah nyumbang juga via organisasi itu. Pernah nya ya agak diselepet waktu ada staf dari organisasi itu ikutan diskusi soal Uighur beberapa tahun lalu di UI.

Tapi anyway, gimana nih, masyarakat, kira-kira yang perlu diperbaiki dari hal yang berkaitan dengan kedermawanan orang Indonesia ini apanya? Niat yang mulia nya kah, atau perlu pengawasan yang lebih ketat dari organisasi-organisasi yang notabenenya menghimpun dan menyalurkan dana dari masyarakat?

Memang, lama kelamaan kalau kita pikirkan, menjadi orang baik aja ga cukup ya. Harus ditunjang juga dengan pengetahuan, jaringan, dan wawasan yang mumpuni, supaya kebaikan yang kita miliki itu tidak disalahgunakan sama orang lain. Mau itu hal-hal yang terkait dengan donasi itu tadi, atau investasi bodong, afiliator, skema Ponzi, pinjol, rentenir, dan lain sebagainya sebetulnya itu kan sudah jadi makanan sehari-hari masyarakat kita. Tapi agaknya masyarakat kita itu entah ya gampang lupa atau emang lagi pada banyak duit aja apa gimana sih, kayaknya gampang banget gitu mengalihkan harta ke orang lain.

Tapi, buat ente-ente yang udah geer denger bahwa Indonesia adalah negara nomor satu paling dermawan, kita pake data sedikit. Paling engga kalau menurut laman World Population Review, untuk data The Most Charitable Countries pada tahun 2022, itu bukan Indonesia lho. Tapi Amerika Serikat, ya, percaya atau tidak. Indonesia sempat menempati posisi pertama hanya di tahun 2020 aja, masih menurut laman yang sama. Sebelum-sebelumnya itu ya Amerika lagi, atau malah Myanmar menempati urutan ke 2.

Tapi ya biasa, kadang-kadang kan kalo di media memang prestasi yang cuma nangkring satu kali aja udah dibilang wah banget, padahal itu pun peringkatnya tidak bertahan di tahun berikutnya.

Memang, masih menurut laman tersebut, tingkat pendonasian terbesar tahun 2022 dari tahun 2021 itu juga dipengaruhi oleh kondisi Covid-19 di mana banyak anggota masyarakat bahu-membahu menyumbangkan sekian porsi kemampuan ekonomi mereka untuk orang lain.

Gue sendiri juga percaya bahkan di negara yang resek seperti Amerika Serikat, masyarakat nya masih banyak yang mulia, yang tidak pamrih, yang betul-betul hidup untuk orang lain. Makanya kalau di US sana kan sering dikenal dengan ‘good samaritan’, kira-kira kalau di sini Hamba Allah lah. Walaupun sekarang udah ga boleh ya kita donasi ke mana gitu masih pake status incognito Hamba Allah begitu.

Di tahun 2022, malah peringkat charity Indonesia di laman tersebut ada di urutan ke 10. Tapi kita masih bisa berbangga, karena tetangga kita Malaysia saja ada di urutan ke 33, Korsel ada di urutan ke 57, Jepang aja bahkan ada di urutan ke 107 menurut indeks yang mereka susun.

Di Amerika dan Indonesia sendiri memang memiliki beberapa kesamaan soal pendonasian ini. Yang pertama karena tentu civil society nya jalan. Sehingga, memang karena ada aspek-aspek kehidupan di masyarakat yang tidak bisa dikelola oleh pemerintah, maka masyarakat sendiri turun tangan menyelesaikan atau paling tidak membantu mengurai permasalahan yang ada. Kedua, untuk melakukan penghimpunan dana relatif banyak sekali channel dan cara nya. Bahkan di jalan-jalan misalnya di lampu merah sering kan ada yang kalau saban bencana atau ada penderita sakit keras atau apa yang memang langsung ada para relawan yang bergerak untuk menghimpun dana. Dengan begitu, individu yang ingin berdonasi sudah banyak sekali cara nya.

Ketiga tentu soal donasi atau bersedekah ini bagian dari nilai-nilai keagamaan. Di US sendiri banyak agama-agama samawi yang hadir di tengah-tengah masyarakat, yang juga mendorong para pemeluk agama nya untuk bersedekah baik itu melalui institusi keagamaan atau dikelola secara mandiri. Di Indonesia ya bahkan banyak kita juga sama-sama tau misalnya masjid-masjid besar sampai punya kas puluhan bahkan di atas seratus juga mengendap begitu saja yang biasa diumumkan setiap Jumat. Padalah setau gue kita ga akan dapat pahala sebelum apa yang kita sedekahkan itu bermanfaat bagi orang lain, jadi kalau masih mengendap begitu, catatan amal kita mungkin ditahan dulu ya.

Keempat, dengan negara yang memiliki keluwesan dalam berserikat dan berkumpul seperti Indonesia, memang pengawasan terhadap aliran dana itu tidak dilakukan di depan, tapi nanti kalau ketika ada isu atau masalah, maka catatan-catatan aliran keuangan itu baru dibuka semuanya. Alih-alih kenapa ga disemprit di awal gitu ya supaya jadi peringatan, ini kalau ada kejadian dulu baru semuanya dibuka satu per satu. Ya dari pihak organisasi nya udah keder duluan, mau jawabin yang mana juga jadi kasihan gitu ya ngeliatnya.

Tapi, dari keluwesan itu, sebetulnya memang di situ lah kadang-kadang untuk para pihak yang tidak bertanggung jawab menggunakan kebaikan dan kepolosan masyarakat Indonesia yang suka berderma, kemudian menggunakan dana yang ada untuk kepentingan-kepentingan kelompoknya saja, bahkan beberapa waktu lalu juga ada yang berafiliasi dengan kelompok teroris JI misalnya, yang modus operandi nya pakai kotak-kotak amal, kan?

Tapi ya kalau soal kasus dan perkara nya kita serahkan aja ke pihak-pihak yang berwajib ya. Kewajiban kita hanya memberi tahu rekan, sanak, saudara supaya ya jangan asal berderma, harus dilihat dulu betul-betul. Apalagi kalau misalnya donasi sampai ke luar negeri, ke Palestina, Syiria, atau ke Xinjiang misalnya, hehe. Harus betul-betul tau kira-kira penyalurannya bagaimana, siapa yang menerima di sana. Hal-hal yang berkenaan dengan akuntabilitas ini juga kita sebagai stakeholder pendonasi yang sering abai dan merasa percaya saja dengan lembaga yang mengorganisasikan nya, karena spanduk-spanduknya ngena banget gitu ya.

Misalnya yang ke Xinjiang deh, gue sih minus 1000 persen itu akan sampai ke tangan orang-orang muslim suku Uighur nya langsung. Pernah gue liat, ternyata program itu bukan dikasihkan ke orang di Provinsi Xinjiang Cina nya, tapi malah dikasih ke orang-orang yang memang sukunya suku Uighur, tapi mereka posisi di Turki, ga di Cina. Entah dibilangnya itu mereka pengungsi atau apalah, tapi kan dilihat dari situ aja udah beda konteks. Orang suku Uighur yang terlihat kasihan di Turki itu aja mungkin dia memang datang dari keluarga kurang mampu, memang punya isu ekonomi yang sektoral, yang memang sedang terjadi di Turki nya, bukan karena dia sedang kenapa-kenapa di Cina, ga ada sangkut pautnya.

Yah, kalau mau dipanjangin agak susah ya, nanti malah jadi makin bikin kalut.

Yaudah kita kembali ke laptop aja ya.

Kalau soal ranking negara yang pemurah dan penderma itu tadi, tahun 2022 Cina sendiri ada pada urutan nomor 126. Total negara di dunia aja sampai yang pulau-pulau terpencil itu ada 195, jadi itu sih parah banget ya urutannya, ha ha ha. Ya gimana, di Cina bro, kadang-kadang kita mikir stereotip, tapi pas emang ngeliat datanya, ya ternyata emang membuktikan begitu ya. Ha ha ha.

Itu tapi di Cina sana ya, bukan Tionghoa di sini, beda lho, jangan lu pleset-plesetin dah ini episode.

Urutan itu agak lucu kalo misalnya kita bandingin sama Rusia di urutan 117, atau bahkan negara yang udah berapa tahun konflik ini urutannya masih di nomor 124, 2 nomor di atas Cina bro, ha ha ha. Emang bener-bener ya.

Makanya, kalo soal ini, hipotesis gue bener soal kalau di Cina itu orang-orang muslim di sana juga ga gimana nyumbang atau infaq ke masjid-masjid. Karena toh memang di Cina masjid-masjid itu dibayarin sama pemerintah mereka, marbot aja digaji kalo di sana. Lah, ya gimana, orangnya aja pelit-pelit gitu kan?

Tapi menariknya, masih di laman World Population Review itu, dia punya indeks untuk donasi, membantu orang asing atau yang tidak dikenal, dan waktu yang dikeluarkan untuk kegiatan-kegiatan sukarela yang ga ada cuan nya. Di Cina sendiri persentase donasi nya 11%, jadi ya mungkin itu dilihat dari indikator pendapatan mereka, dan berapa yang dikeluarkan. Lalu membantu nenek menyebrang jalan cuma 31%, agak tinggi sih, karena kalau yang begini ini kan ya minimum threshold dan rata-rata kalau bantuin orang di jalan yang ga kita kenal kan ga pake biaya ya. Lalu misalnya besaran waktu yang digunakan untuk kegiatan sukarela cuma 5% di Cina.

Unik deh, coba cek website nya ya.

Tapi ya kalo udah gue jelasin begini, ya bukan berarti 100% orang di sana pelit dan medit ya, ga juga sih. Karena kan memang kalo penelitian dengan pengukuran indeks begitu, sebetulnya ya tergantung dong mereka approach nya gimana. Karena bisa aja ada yang pas jawab ya ngasal aja, atau ga ngerti dengan pertanyaannya, atau ya dia cuma mensarikan pokok-pokok data tanpa survey langsung dll dsb.

Cuma, emang tadi udah gue sampein 4 poin ya misalnya kesamaan dalam hal lingkungan sosial di Indonesia dan di US itu begitu, sehingga orang-orang juga tergerak untuk melakukan donasi, saling membantu walaupun engga kenal, dan meluangkan waktu untuk misalnya kerja bakti dan lain sebagainya.

Di Cina itu terus-terang agak sulit, karena kita tidak akan menemukan 4 poin itu di sana. Tidak ada yang namanya civil society, tidak bisa bebas berkumpul atau berserikat, boro-boro mau di lampu merah kan ada gitu yang kasih pengumuman donasi dan lain sebagainya.

Hal itu terjadi ya karena pemerintah Cina sendiri se rigid itu mengatur kehidupan bermasyarakat mereka di sana. Intervensi yang sangat besar sampai hal-hal yang berkenaan dengan charity, itu tentu di banyak konteks memanjakan masyarakat mereka sendiri.

Lantas pemerintah mereka mengelola apa? Ya tentu mengelola pajak yang sudah dihimpun sedemikian rupa, dong. Di sana mau lari dari pajak? Ya boro-boro. Sama lah kayak di US atau di Eropa, mana bisa lari dari kewajiban pajak, kan.

Sehingga, kalau di Cina, bukannya ga boleh berdonasi, boleh, ada, lembaga-lembaga NGO yang sudah berdiri dan eksis di Cina tetep ada kok, bisa kok kita donasi untuk misalnya yayasan amal, rumah sakit, bencana alam, kita ikutan kegiatan-kegiatan voluntir di Cina banyak. Bahkan misalnya kalau kita ikut ada kayak Kaskus atau forum online nya orang-orang asing macam di Beijing, Shanghai, Guangzhou dll, banyak kok pengumuman kita bisa ikut kegiatan voluntir di sekolah berkebutuhan khusus misalnya, atau ya bencana tadi kalau kita fit badannya, atau misalnya jadi voluntir untuk waktu pandemi Covid-19 kemarin. Ada kok anak-anak kedokteran asal negara-negara luar yang mereka jadi sukarelawan atau sukarelawati untuk nakes RS Covid di sana.

Hanya saja memang indeks-indeks begitu tidak dibuat oleh lembaga riset Cina yang mereka ya tadi memiliki formulasinya sendiri dalam memandang donasi dan berderma.

Lembaga seperti UNICEF ada di Cina, Red Cross Society juga ada di sana, WWF juga ada di sana, kalo Greenpeace sih ga ada ya, he he. Ya itu semua sebetulnya balik lagi selama lembaga-lembaga NGO internasional itu mereka bersedia untuk mengikuti aturan main dan pola-pola yang rigid soal regulasi kelembagaan non pemerintah, verifikasi identitas, dia cek dulu semua ijin-ijin dan sertifikasi penghimpunan dana, dia review dulu rencana kerja tahunan nya bagaimana, mau di mana aja dia melakukan kegiatan fundraising, siapa aja subjek dan objek kegiatannya, dll dsb, itu semua memang harus diberitahukan dan sangat rigid.

Tapi ya misalnya juga macam Rotary Club Internasional, itu ada kok di Shanghai. Ya mereka eksis di sana karena itu sudah menjadi sebuah keharusan untuk golongan orang-orang dengan tingkat ekonomi tertentu, di mana kegiatan-kegiatan itu harus terkoneksi secara global, sehingga sirkel-sikrel nya tetap pada nafas yang sama. Untuk yang memang concern nya soal gengsi dan pride nya, ya tentu kalau dihadapkan hanya pada kebutuhan administratif dari pemerintah Cina, pasti akan mereka ladeni juga. Wong ada kok sirkel nya yang membutuhkan.

Tapi, kalo gue pribadi melihat memang di Cina pemerintahnya juga sering bikin iklan-iklan layanan masyarakat supaya orang-orangnya kaga pelit, kaga cuek-cuekan satu sama lain, kaga terlalu kaku, kalo ada nenek mau nyeberang jalan lu tolongin kek tong, kan ga perlu semua urusan gue selesain. Mungkin begitu kata pemerintahnya kan. Karena untuk menangani 1,4 milyar penduduk ya mustahil juga semua hal bisa ditangani, kalau tidak ada para good samaritan atau para hamba Tuhan yang berderma dan bertindak, ya ga akan asik hidup lah. Kebayang kan betapa kaku nya?

Leave a comment