Berdamai dengan Perkembangan Zaman

Kemarin saya sempat berdiskusi dengan kawan yang juga merupakan alumni PPI Dunia. Lalu, setelah saya tutup Whatsapp call-nya, saya jadi tersadar, sepertinya bagus kalau isi obrolan kami ditulis di blog.

Kawan saya itu lucu, tiba-tiba WA dengan ada tautan tangkapan layar, yang kira-kira isinya beliau diminta untuk memberikan materi di hadapan entah itu mahasiswa atau publik umum, tapi yang jelas arah pembahasannya lebih mengarah kepada bagaimana menghadapi kawan-kawan Gen Z yang pasif dan kurang aktif.

Awalnya saya nyinyir ke kawan saya itu, lah, itu kan Mas nya yang diminta isi materi. Ya kalau saya yang diminta isi materi, saya sudah coba browsing-browsing dan cari-cari materi, kan. Tapi, ya nampaknya kawan saya ini tidak punya banyak waktu untuk melakukan scrapping materi yang dibutuhkan, dan lebih memilih layaknya kuis ‘Who Wants to be a Millionaire’ dengan memilih opsi Call a Friend.

Sekonyong, pembahasan saya mengarah ke bagaimana ada 2 kondisi yang dihadapi, dan itu akan sangat bergantung pada cara mengintervensi nya nanti. Ketika kita sudah bisa mengidentifikasi atau mengkategorisasikan situasi, baru lah saya pikir kita bisa berpikir jernih apa yang harus kita lakukan—seperti pada umumnya menghadapi masalah-masalah lain, tidak hanya perkara Gen Z ini.

Kondisi pertama, tentu sesuai dengan request kawan saya itu. Bahwa bagaimana memberikan materi terhadap audiens Gen Z yang dianggap pasif, kurang bersemangat, tidak aktif dalam memberikan respon di berbagai macam setting. Apakah itu di kelas atau dalam konteks organisasi, mengerjakan tugas kelompok, dan lain sebagainya.

Saya kira tidak demikian, jawab saya.

Maksudnya?

Begini, kawan saya itu mungkin kembali lagi, waktu nya sangat padat, sehingga interaksi untuk menyisir atau melakukan observasi terutama di dunia maya, saya rasa beliau tidak ada waktu. Kalau saya, bisa dibilang masih ada slot waktu-waktu kosong sehingga saya bisa sekaligus mengamati bagaimana interaksi di media sosial itu terjadi, dan perkembangannya hari ini.

Saya bilang ke kawan saya itu, bahwa okelah Gen Z akhir (yang kelahirannya mendekati tahun 2012) memiliki beberapa kondisi bagi kami-kami yang Gen Y (millenial) tidak miliki. Tak lain dan tak bukan adalah betapa presensi mereka di dunia maya itu sangat tinggi.

Sedikit saya menceritakan perjalanan saya dengan internet. Sebagai Gen Y yang lahir di tahun 1989, pada waktu saya kuliah dulu di Unpad, di Jatinangor, waktu itu sekitar tahun 2010an, saya menghadapi kendala yang teramat sulit, terutama pada waktu mempersiapkan beberapa dokumen yang dibutuhkan untuk melamar beasiswa ke beberapa negara. Pada waktu itu, kita banyak mengenal modem yang berbentuk lonjong seperti mp3 players jadul, yang kita bisa pasangkan SIM Card di dalam nya untuk koneksi 3G.

Memang, di Jatinangor sudah banyak warnet dan lain sebagainya. Tapi, namanya juga kita berjibaku dengan urusan melamar beasiswa, ada momen di mana kita perlu kecepatan melakukan revisi aplikasi dan melakukan prosedur secara cepat. Kalau ke warnet, salah satu kekhawatiran saya adalah bocornya data, dan komputer yang dipakai beramai-ramai, sehingga berpotensi ada virus atau malware yang bisa menular via USB, dan lain sebagainya.

Saya pun curiga kawan-kawan Gen Alpha saat ini tidak paham kalau kita sebut kata ‘warnet’.

Kembali ke perkara modem internet itu. Saya harus pasang kabel USB untuk memanjangkan modem supaya dapat spot yang optimal untuk sinyal 3G. Pada waktu itu lokasi ada di indekos saya dan teman-teman se-kost-an. Sampai mereka pun terheran, apa yang saya sedang lakukan sampai-sampai harus beli kabel USB extension seperti itu.

Singkat cerita, saya mendapatkan spot yang optimal untuk menaruh modem 3G itu tadi, dan semua proses aplikasi beasiswa berjalan dengan lancar. Saya pada waktu itu sempat apply beasiswa ke Australia, Malaysia, US, dan Cina. Akhirnya yang keterima terlebih dahulu adalah ke Cina. Saya ambil beasiswa itu.

Artinya, bila ditarik jangka waktu dari tahun 2010 hingga tahun 2025 saat ini, kita semua dapat melihat perubahan yang sangat signifikan terutama bagaimana konektivitas internet itu tersedia dengan mudahnya saat ini. Paket-paket internet pun bisa dengan mudahnya kita beli seharga tidak sampai 500.000 Rupiah. Sementara kalau dulu tahun 2010 – 2015 mungkin harganya masih selangit, saya pun sudah tidak ingat.

Kemudahan konektivitas tersebut, tentu membuat adanya penyesuaian-penyesuaian dan perubahan perilaku. Perubahan perilaku tersebut membentuk sebuah pola. Pola ini lah yang kemudian menjadi pakem bagi para pengguna yang kebetulan sangat terkoneksi ketika mereka memiliki kebutuhan akan konektivitas tersebut, dari urusan yang tidak penting, sampai urusan-urusan sekolah, pendidikan, pekerjaan, dan lain sebagainya.

Apalagi ketika Indonesia melewati 1,5 tahun masa-masa Covid-19, perubahan pola yang sangat drastis, dan terpaksa harus diadopsi oleh semua orang, dan tidak hanya di Indonesia. Sehingga, pola akan penggunaan konektivitas internet dan presensi di dunia maya, sudah tidak bisa dipisahkan lagi dari kehidupan sehari-hari. Bahkan pada waktu Covid-19, banyak rekan-rekan alumni PPI Dunia yang diberi judul angkatan Covid, karena mereka malahan sama sekali tidak pernah ke negaranya, dan harus mengikuti perkuliahan secara daring secara total. Ini kan lucu, tapi fakta nya seperti itu.

Okelah, kita jangan bahas terkait Covid-19 ya.

Saya sampaikan ke kawan saya itu, bahwa perilaku yang pasif di kalangan teman-teman Gen Z akhir dan Gen Alpha dalam keseharian di dunia nyata, harus diposisikan dan dilihat dari keaktifan mereka di dunia maya. Menurut survey APJII (Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia) tahun 2025[1], tingkat penetrasi internet di Indonesia apabila dibandingkan dari tahun 2018 yang hanya berkisar di angka 64,8% saat ini sudah mencapai 80,66%. Artinya rekan-rekan Gen Z dan Gen Alpha lah yang sedang menikmati kelimpahan konektivitas/penetrasi internet tersebut.

Sehingga, walaupun perlu studi-studi lanjutan, asumsi nya adalah mereka juga memiliki intensitas interaksi yang tinggi di dunia maya. Hal ini berdampak pada antusiasme yang rendah untuk berinteraksi di dunia nyata. Salah satu yang bisa dijadikan pertimbangan adalah, bahwa betapa aktivitas di dunia maya itu sangat demanding, atau sangat menguras waktu, energi, pikiran. Kendati banyak kalangan terutama generasi di atas Gen Z akhir dan Gen Alpha yang menganggap bahwa itu semua tidak nyata, namun ke-fana-an tersebut mau tidak mau, suka tidak suka sudah menempel sangat erat di kalangan Gen Z akhir dan Gen Alpha saat ini. Aktivitas mereka baik itu dalam permainan gim daring, media sosial, pekerjaan sampingan daring, dan lain sebagainya, umumnya juga menyita waktu-waktu reguler yang tadinya mereka bisa gunakan untuk beristirahat, jadi malah harus standby.

Banyak kita lihat terutama di platform TikTok, teknik berjualan dengan Live banyak diisi oleh host yang saya pikir mereka adalah Gen Z akhir. Saya juga yakin itu adalah pekerjaan sampingan mereka. Dan dari yang bisa kita amati bersama, justru kegiatan Live tersebut banyak hadir di waktu-waktu malam hari di atas jam 9 malam sampai jam 1 pagi.

Hal-hal seperti ini memang bisa diamati dari berbagai macam sisi. Dengan melekat eratnya internet di rekan-rekan Gen Z akhir, kecepatan mereka untuk bisa menyelami dan mempelajari seluk-beluk internet juga harus diacungi jempol. Saya yakin banyak pekerjaan atau tugas-tugas pendidikan yang mereka jalani, bisa cepat selesai semuanya itu dengan bantuan internet. Mereka juga lah yang bisa mengakali supaya bagaimana hasil pekerjaan atau menunaikan tugas pendidikan mereka bisa legal. Artinya bisa mengakali supaya tidak terdeteksi kalau karya mereka itu plagiat, copy-paste, dibuat oleh AI, dan lain sebagainya. Sehingga, dengan demikian mereka bisa secara cepat beralih ke aktivitas dunia maya nya yang lain, mengerjakan pekerjaan sampingan dengan menjadi host Live tadi, atau mengelola banyak akun media sosial dan lain sebagainya.

Saya bisa bayangkan betapa melelahkan dan demanding nya dunia maya, tidak seperti apa yang mungkin dipikirkan oleh kalangan Baby Boomers, Gen X, dan Gen Y awal. Sehingga, parameter-parameter soal keaktifan, memberikan feedback dan lain sebagainya tadi yang awal mula nya dibuat oleh generasi Baby Boomers, menjadi sudah tidak relevan.

Kembali ke obrolan saya dengan kawan saya itu.

Saya sampaikan ke dia, mungkin yang bisa dilakukan adalah dengan menyampaikan materi-materi yang sederhana, visual, dan menggunakan tools yang juga rekan-rekan Gen Z familiar.

Misalnya begini. Kawan saya itu bisa memberikan materi dengan memberikan flowchart diagram sederhana soal bagaimana pentingnya memiliki soft-skill seperti proaktif dalam kelas, berorganisasi, menguasai public speaking, memiliki skill berbahasa asing (selain Bahasa Inggris), dan lain sebagainya. Flowchart diagram itu bisa dibuat dalam konteks tertutup, yang hanya menyediakan alur Yes atau No. Sehingga audiens Gen Z tidak perlu lagi banyak berpikir seperti sajian-sajian argumen yang akan lebih banyak nuansa kualitatif nya, dan saya yakin audiens Gen Z tidak akan bisa langsung menangkap apa yang ingin disampaikan.

Saya juga menyampaikan ke kawan saya itu, bahwa secara visual, bisa ditampilkan saja, misalnya foto-foto baik itu AI-generated atau foto asli, tentang bagaimana gambaran individu masa depan yang sesuai dengan parameter-parameter yang ingin kita jadikan sebagai message nya. Misalnya, bagaimana gambaran atau nasib orang yang tidak pandai melakukan public speaking di kemudian hari. Atau bagaimana gambaran atau nasib orang yang tidak memiliki soft-skill yang baik dalam arti berinteraksi dengan sesama, bisa mengelola SDM atau tim. Sajikan bagaimana gambarannya individu dengan kualitas itu di kemudian hari, sajikan yang bisa membuat mereka membuka mata nya terhadap kemungkinan-kemungkinan nyata tadi.

Bisa juga dalam materi yang ingin disampaikan kepada audiens Gen Z, dengan menanyakan ke beberapa platform AI seperti ChatGPT, DeepSeek, Gemini, dan lain sebagainya dengan prompt misalnya: What skills do we need to survive in the next 10 and 20 years. Dengan adanya penyajian konten seperti itu, niscaya audiens Gen Z yang masih memiliki rasa penasaran atau tidak percaya, mereka akan mudah untuk melakukan repetisi sendiri. Repetisi di sini artinya untuk mengecek apakah prompt yang kita masukkan tadi akan sama hasilnya dengan yang mereka nanti coba sendiri.

Dengan menggunakan tools seperti AI tadi, saya rasa ini adalah salah satu cara untuk menyelami dunia Gen Z akhir dan Gen Alpha yang sudah sangat melekat kehidupannya dengan internet.

Saya bilang ke rekan saya itu. Dulu waktu kita kuliah S1, masih banyak dosen yang menggunakan mesin OHP, kerena pada waktu itu mesin proyektor digital masih sangat sedikit, dan tidak banyak dosen yang memiliki laptop. Sehingga, pada waktu itu kami harus menyalin apa yang para dosen sampaikan via OHP dengan tulisan yang sudah dengan susah payah mereka tulis di lembaran-lembaran mika itu.

Apresiasi-apresiasi terhadap jerih payah seperti itu lah yang menurut saya sudah tidak lagi ada di benak rekan-rekan Gen Z dan Alpha. Sehingga, mereka betul-betul skip terhadap bagaimana mekanisme patron and client yang ada di mindset paling tidak kami-kami Gen Y, X dan ke atas. Sehingga, untuk bisa menyelami dengan baik apa yang Gen Z bisa lebih familiar, itu menjadi sesuatu yang mutlak. Karena kalau tidak, jurang mispersepsi ini walaupun tidak melebar, akan bisa makin dalam, semakin sulit untuk dicerna oleh tidak hanya komunikator, tetapi juga kepada para komunikan.

Ya kalau perlu, kita juga bisa mencoba untuk membuat akun di gim seperti Roblox atau Minecraft hanya untuk bisa tau apa saja yang Gen Z dan Alpha lakukan (dan dapatkan) dari presensi maya mereka.

Salah satu hal yang saya duga mereka dapatkan adalah apresiasi. Dengan banyaknya dan mudahnya mereka mendapatkan apresiasi di dunia maya, walaupun bisa jadi itu semua fake dan berlebihan, namun paling tidak itu adalah token-token kehidupan yang mereka butuhkan dan tidak didapat di dunia nyata.

Misalnya saja ya mungkin karena orang tua mereka sibuk, kakek-nenek mereka sudah tidak nyambung diajak ngobrol, guru atau dosen mereka juga masih tertatih-tatih memahami pola perilaku. Akhirnya perasaan bahwa dunia maya lebih signifikan dibanding dunia nyata mengkristal di benak mereka.

Dalam aktivitas dunia maya, ada yang dinamakan akun-akun alter. Akun-akun alter ini adalah akun alternatif yang dimiliki oleh para pengguna internet, untuk menyamarkan identitas mereka yang kemudian dapat digunakan dalam berbagai macam keperluan. Apakah untuk sesuatu yang positif, ataupun negatif.

Dengan banyaknya rekan-rekan Gen Z dan Alpha memiliki akun alter tadi, niscaya mereka tidak hanya dengan mudahnya mendapatkan apresiasi, tapi mereka juga akan merasa bahwa rasa percaya diri mereka meningkat secara berlipat, tanpa perlu khawatir atau takut perundungan, karena toh yang mereka gunakan misalnya nama, foto profil, dan lain sebagainya tidak ada hubungan nya sama sekali dengan fisikal di dunia nyata mereka. Katakanlah seperti memainkan gim Among Us—dengan impostor nya. Atau gambaran seseorang yang memiliki banyak topeng, atau sedang memainkan peran di sinetron atau film.

Tentu, yang berkenaan dengan akun alter ini banyak potensi negatifnya. Pengguna bisa saja terlalu mendalami identitas ‘palsu’ nya, sehingga ia merasa bahwa ID itu adalah dirinya betulan. Sehingga, ketika menerima input negatif seperti cemoohan, kegagalan dalam melakukan Task secara daring, mereka menjadikan itu suatu beban yang nyata. Ya memang, akan menjadi nyata apabila banyak interaksi terutama di platform gim, para pengguna sudah mengeluarkan banyak uang untuk membeli mata uang platform tertentu. Yang mana uang tadi didapatkan secara susah payah, atau merupakan amanat dari orang tua yang diselewengkan. Sehingga ketika ada kegagalan, mereka mengukurnya secara riil.

Potensi negatif lainnya tentu ID alter tadi bisa digunakan untuk melakukan hal-hal yang bersifat kejahatan dunia maya. Sudah banyak sekali ragamnya, dan mungkin aparat penegak hukum saat ini kesulitan untuk bisa mengikuti “kreatifitas” kejahatan dunia maya yang terus berkembang.

Itu tadi baru soal obrolan saya dengan kawan, dalam perspektif penyampaian ke audiens Gen Z.

Sekarang kita bahas soal kalau Gen Z berada di lingkungan kerja, yang dianggap kurang bisa disiplin, tidak bisa mengikuti nilai-nilai internal perusahaan, dan dianggap bebal dalam mengikuti ritme pekerjaan.

Saya sampaikan ke rekan saya itu tadi, justru yang harus dievaluasi adalah bagaimana proses rekrutmen pekerjaan. Asumsi saya begini. Walaupun saya bukan ahli dalam bidang HRD, namun dari yang saya amati, standar perekrutan dan bagaimana cara merekrut di suatu perusahaan, terutama di perusahaan yang punya kategori padat karya atau cukup banyak membutuhkan staf/pekerja, merupakan warisan dari generasi-generasi sebelumnya yang tidak memiliki metode perekrutan yang berkembang mengikuti zaman. Terutama tidak mengikuti tren pola perilaku Gen Z yang dibahas di atas.

Implikasi nya mudah saja menurut saya sebagai pengamat. Bahwa, para staf atau pekerja Gen Z itu memiliki tipikal yang:

  1. Tidak menunjukkan karakter asli nya di awal proses rekrutmen. Menurut hemat saya, ini adalah konsekuensi dari pola hidup yang melekat pada dunia maya. Tentu saja mereka tidak akan menunjukkan karakter asli mereka di awal, karena saking terbiasa nya mereka menjalani kehidupan maya dengan identitas lain (alter). Tentu berkenaan dengan hal ini, perlu studi lanjutan, dan kemudian bisa ada alternatif tools untuk proses rekrutmen, sehingga dengan tools tersebut, karakter asli dari orang-orang yang handal menyembunyikan karakternya. Mungkin dalam pengetesan, tes kepribadian perlu dikhususkan tersendiri di luar tes psikotes lainnya. Dengan menerapkan tes kepribadian yang lebih kompleks, saya yakin sepandai apapun mereka menyembunyikan karakter, akan bisa tergali juga.
  2. Malas, dan cenderung bermalas-malasan. Walaupun ini bukan memukul rata semua, tapi ada kegelisahan yang tidak sedikit di kalangan manajemen perusahaan. Hal ini, dilatarbelakangi oleh pola kehidupan karena internet sangat melekat ke kehidupan mereka sehari-hari. Coba bayangkan Gen Z terutama Gen Z akhir, mereka membawa pola hidup presensi maya 90% (katakan lah seperti itu) dan nyata hanya tersisa 10% ke setting kehidupan dunia pekerjaan. Mungkin, pola tersebut tidak akan memiliki konsekuensi besar ketika mereka masih duduk di bangku sekolah atau mengenyam pendidikan lanjutan. Namun, kalau di setting pekerjaan, tentu konsekuensi nya akan langsung terasa, dengan (ironi nya) Gen Z itu tadi justru memiliki kegagapan mencerna konsekuensi dunia nyata.
  3. Tidak bisa mengikuti nilai-nilai perusahaan. Kalau di poin ini, kegagapan mereka untuk mengikuti nilai-nilai perusahaan mungkin saya bisa maklumi. Dengan argumentasi bahwa siapa kah yang menetapkan nilai-nilai itu? Kapan nilai-nilai itu ditetapkan dan mulai diterapkan? Apakah sudah 10 tahun yang lalu, 20 tahun yang lalu, atau bahkan lebih dari itu? Artinya, kita bisa sama-sama juga melihat relevansi dari yang dinamakan ‘paket nilai’ yang berlaku di suatu perusahaan. Justru, apabila telah dilakukan survey atau semacamnya, dan hasilnya staf atau pegawai melihat bahwa paket nilai itu sudah tidak relevan, ya berarti tinggal bagaimana pihak pembuat kebijakan di level manajerial yang lebih tinggi berembuk untuk bisa merevisi paket nilai tersebut. Sehingga dengan demikian, khususnya untuk kalangan Gen Z akhir dan Alpha, ketika dilakukan internalisasi dan penyampaian poin-poin yang lebih relevan dengan mereka, niscaya mereka akan lebih happy untuk mengikutinya.

Sebagai intermezzo. Ketika di Cina, saya sempat bekerja selama 1 tahun di sebuah perusahaan manufaktur komponen pengeboran lepas pantai. Namun, karena saya tidak memiliki latar belakang teknik, tentu yang saya kerjakan adalah hal di luar itu. Saya banyak berinteraksi dengan aktivitas HRD dan pengembangan bisnis internasional perusahaan.

Dengan pengalaman yang cukup singkat bekerja di Cina, namun saya dituntut untuk bisa mempelajari dan beradaptasi dengan lingkungan HRD yang berbeda secara lebih cepat. Bahkan ada beberapa pekerjaan di mana saya harus melakukan perekrutan sampai pengelolaan tim yang terdiri dari 6 warga negara yang berbeda.

Terkait dengan beberapa poin tadi, menurut hemat saya ada beberapa hal yang bisa menjadi solusi. Selain daripada yang telah disampaikan di dalam poin-poin di atas juga. Antara lain seperti:

  1. Memantau dan melakukan peningkatan untuk kegiatan-kegiatan yang berkenaan dengan bonding antarstaf. Lakukanlah kegiatan-kegiatan bonding dengan sebelumnya telah melakukan didiskusikan antara beberapa kategori generasi intraperusahaan. Dengan begitu, harapannya hal tersebut akan mencegah terjadinya partisipasi yang pasif di kalangan Gen Z atau Alpha dalam mengikuti kegiatan yang justru bertujuan untuk mempererat SDM yang dimiliki oleh perusahaan.
  2. Melakukan pemantauan dan inventarisasi nama-nama dan detail lainnya yang berkenaan dengan individu usia remaja yang bersangkutan dengan kasus hukum. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan scrapping di media sosial. Cukup besar memang pekerjaannya, tapi akan mempercepat proses long-list ke short-list dari semua applicants yang submit data mereka ke perusahaan. Sudahlah sulit menghadapi perangai Gen Z yang seperti itu, apalagi kalau ditambah yang bersangkutan memiliki catatan hukum.
  3. Tentu dengan melakukan beberapa penyesuaian rutinitas kerja dengan manpower yang ada. Ada saja sektor-sektor industri, yang bahkan non-IT, yang sebetulnya banyak pekerjaan bisa dilakukan secara remote, tanpa perlu secara fisik hadir. Optimalkan penggunaan infrastruktur IT yang kita pun sudah rata-rata familiar, sehingga, tanpa membenturkan antara tradisi dan KPI kinerja, hasil yang diharapkan dari para staf tetap bisa dicapai.
  4. Lakukan beberapa challenge di lingkungan pekerjaan, yang spesifik ditujukan untuk kalangan Gen Z dan Alpha. Challenge tersebut bisa berupa trivia, bisa berupa tes wawasan, bisa berupa tantangan yang kalau dalam analogi gim disebut dengan Side Quest. Rata-rata, dalam kehidupan maya, engagement terbesar dari para pengguna selain media sosial, adalah bermain gim. Tidak hanya gim yang sifatnya FPS atau RPG, banyak sekali gim yang dapat dimainkan, dengan 1 kesamaan: memiliki apa yang disebut dengan Side Quest. Gunakanlah challenges tersebut sebagai bentuk representasi dari bagaimana pihak manajemen perusahaan seakan sudah memahami dan menyelami apa yang para Gen Z itu lakukan. Padahal, dalam hal ini, yang kemungkinan besar terjadi adalah learning by doing dari para generasi Boomer, X, dan Y. Menerapkan apa yang disebut dengan gamification dalam dunia pekerjaan, kenapa tidak? Anyways, do not settle, right?
  5. Para pimpinan perusahaan dengan tradisi yang kaku perlu juga belajar dari banyak perusahaan baik nasional maupun global, yang nyata nya mereka tidak bisa survive ataupun mengikuti perkembangan zaman. Apabila memang disinyalir di perusahaan kita ada tradisi-tradisi yang sebetulnya itu tidak perlu, sebetulnya itu hanyalah gimmick, atau justru tradisi yang mengarah pada menjauhkan tim dari produktivitas, untuk apa ‘tradisi’ tersebut diteruskan? Coba berkaca pada Sony dan perusahaan-perusahaan asal Jepang yang banyak gagal untuk mengikuti perkembangan zaman. Menurut saya, karena mereka super kaku. Lakukanlah tidak hanya modifikasi, tetapi juga ko-modifikasi (co-modification) yang titik tekannya adalah harus ada pelibatan dari grup tertentu yang ingin diintervensi (ya Gen Z dan Alpha tadi).

[1] https://survei.apjii.or.id/survei

Leave a comment