Berikut dialog dalam Bahasa Mandarin yang terdiri dari beragam segmen/topik pembicaraan.
Di dalam Bahasa Mandarin, apalagi untuk percakapan, biasanya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, terutama mengenai pengucapannya. Seperti:
- Huruf e di pinyin Mandarin dibaca e dalam kata empat, bukan pada sate.
- Huruf q di pinyin Mandarin dibaca c untuk kita orang Indonesia.
- Sedangkan huruf c di pinyin Mandarin dibaca (t)s-; tapi bukan dibaca ‘tsa’ seperti pada pengejaan Bahasa Arab.
- Huruf h di pinyin Mandarin dibaca dengan sedikit kh-, seperti dalam khawatir. Jadi bukan dibaca seperti penggunaan h di harga.
- Huruf x di pinyin Mandarin dibaca ss-, seperti mendesis. Jadi bukan dibaca sh- seperti kebanyakan kesalahan pengucapan. X dalam pinyin Mandarin dibaca dengan pengucapan kering saja.
- Huruf z di pinyin Mandarin dibaca (t)z-. Jadi bukan dibaca seperti z pada zebra.
- Untuk penyebutan sh- pada pinyin Mandarin, dapat disebutkan dengan sy-, seperti pada syarat.
- Untuk penyebutan b- pada pinyin Mandarin, penyebutannya bisa menyesuaikan menjadi (p)b- ; seakan-akan ada huruf p nya sedikit sebelum kita melafalkan huruf b.
- Untuk penyebutan d- pada pinyin Mandarin, penyebutannya bisa menyesuaikan menjadi (t)d- ; seakan-akan ada huruf t nya sedikit sebelum kita melafalkan huruf d.
- Untuk penyebutan g- pada pinyin Mandarin, penyebutannya bisa menyesuaikan menjadi (k)g- ; seakan-akan ada huruf k nya sedikit sebelum kita melafalkan huruf g.
Kesalahan pelafalan pinyin yang sering kali terjadi, terutama karena kebiasaan lidah kita sebagai orang Indonesia adalah:
- Untuk orang-orang yang datang dari kawasan Sumut atau Timur, akan sukar membaca e seperti pada empat, tapi tetap membaca e pada sate. Padahal yang betul harusnya membaca pinyin dengan huruf e seperti di empat.
- Membaca huruf q seperti ‘kiu’ nya Bahasa Indonesia, atau mentok di ‘ka’, yang seharusnya dibaca c biasa saja tanpa kerumitan yang tidak perlu.
- Huruf c suka dibaca dengan ‘ch’, padahal itu salah. Untuk ch sudah ada di pinyin yang memang menggunakan ‘ch’ di dalamnya, seperti makan chifan 吃饭, kendaraan che 车, kasur chuang 床, dan lain sebagainya.
- Ketika ada huruf j pada pinyin dibaca c, ini salah dan sering sekali terjadi. Seperti jiayou, sering dibaca ‘ciayo’ harusnya ya dibacanya jiayou saja, walaupun memang ada aksen yang terdengar seperti c didepannya. Tapi di materi-materi tidak saya tambahkan c, karena nanti kebiasaan membaca j menjadi c betulan.
- Huruf z, karena orang Indonesia kita sering baca z menjadi j, seperti zebra dibaca JEBRA, hewan apa yang belang dan ada di kebun binatang, anak-anaaak? JEBRA BU GURUUUUU..! Nah, sehingga di atas saya jelaskan kalau z dibacanya ‘tz’, tidak murni z seperti di Bahasa Indonesia, karena nanti mentalnya jadi jet! Wkwk.
- Menggunakan pelafalan mentok yang biasa disimbolkan dengan apostrop (‘), ya apostrop tidak ada di pinyin, tapi di Bahasa Indonesia, Inggris dsb. Disadari atau tidak, karena di Bahasa Indonesia dominan kata memiliki akhir konsonan, maka kita terbiasa membuat mentok di ujung pengucapan. Sedangkan di Bahasa Mandarin dominan kata memiliki akhir vokal. Sehingga untuk men-switch kebiasaan memang agak susah. Sehingga kebiasaan membuat pelafalan yang mentok harus dikurangi sekuat tenaga. Karena kalau tidak, hal tersebut akan mempengaruhi nada. Pelafalan mentok itu diwajarkan ketika ada di nada 4 \ , namun apabila kita ketemu nada selain nada 4, tapi dilafalkannya mentok, ya kedengerannya akan ke nada 4 juga, which is salah dong.
Selanjutnya, pada tulisan ini saya menggunakan 2 warna, yaitu merah dan biru untuk membantu pengucapan Bahasa Mandarin. Yang berwarna merah merupakan pinyin. Pinyin adalah transliterasi hanzi Mandarin ke dalam huruf latin. Pinyin ini akan selalu menjadi acuan baku dari pengucapan Bahasa Mandarin. Sedangkan yang berwarna biru (saya sebut Jiandan) adalah pendekatan yang saya gunakan untuk mengajar sehingga untuk kita orang Indonesia tidak perlu lagi menebak-nebak cara membaca pinyin. Hal ini saya rasa cukup telak, karena mengajarkan pinyin berpotensi untuk kehilangan kemampuan untuk mengingat, dikarenakan butuh penyesuaian pengucapan kembali ketika membaca pinyin tadi.
Sedangkan tanda // adalah merupakan penanda penjedaan untuk ketika membaca suatu kalimat. Selain dengan melihat tanda //, untuk penjedaan bisa dari tanda-tanda baca seperti koma, titik, dan tanda tanya. Continue reading “Materi Belajar Bahasa Cina/Mandarin” →