Untuk urusan makanan dan kuliner merupakan salah satu hal yang tentu saja kita butuhkan sehari-hari. Di Tiongkok sendiri ada beberapa hal yang perlu diamati ketika kita sedang makan di tempat-tempat makan umum. Pertama, kita harus bisa melihat lokasi tempat kita makan apakah termasuk kategori tempat besar atau kecil. Tempat-tempat besar biasanya kita akan mendapati para pegawai restoran yang menggunakan seragam maupun pakaian-pakaian rapih dan baik. Untuk tempat-tempat makan dengan kategori besar tersebut, kita dapat memanggil para pegawai dengan sebutan ‘pelayan’—fu wu yuan. Continue reading “Skenario 6 Selama di Tiongkok/Cina: Di Restoran”
Sosial Budaya dan Kemasyarakatan
Skenario 7 Selama di Tiongkok/Cina: Di Bioskop dan Teater
Pembahasan mengenai skenario ini penting karena ketika kita tinggal dalam waktu yang cukup lama, kemungkinan besar kita akan meluangkan waktu untuk juga menikmati sajian film di bioskop-bioskop sekitar tempat tinggal kita di Tiongkok. Secara ukuran bioskop-bioskop yang ada di Tiongkok tidak jauh berbeda dengan apa yang bisa kita temukan di Tanah Air. Perusahaan-perusahaan hiburan yang memiliki waralaba bioskop juga beberapa bisa kita temukan di negara-negara lain. Continue reading “Skenario 7 Selama di Tiongkok/Cina: Di Bioskop dan Teater”
Skenario 8 Selama di Tiongkok/Cina: Di Kantor-kantor Pelayanan Publik
Kantor-kantor pelayanan publik seperti kantor pajak, kantor pembayaran keperluan sehari-hari, bank, dan kantor-kantor layanan administrasi lainnya merupakan tempat-tempat yang sudah disiapkan untuk melayani jutaan orang setiap harinya. Sehingga segala prosedur yang terkait dengan kepengurusan administratif telah memiliki prosedur-prosedur yang baku dan lebih tertata. Ketika kita ingin mengurus sesuatu, baiknya kita meminta tolong kepada rekan orang Tiongkok lokal untuk membantu kita menerjemahkan Bahasa Mandarin ke Bahasa Inggris. Umumnya hanya para staf di bank-bank yang lebih dominan dan memiliki kemungkinan lebih besar bahwa mereka bisa berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Selain bank, aku pikir para staf yang bekerja di kantor-kantor layanan publik lainnya tidak bisa berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Continue reading “Skenario 8 Selama di Tiongkok/Cina: Di Kantor-kantor Pelayanan Publik”
Skenario 9 Selama di Tiongkok/Cina: Di Jalan-jalan
Dalam skenario ini paling tidak ada dua kondisi yang bisa aku coba deskripsikan, yaitu kondisi dimana kita tidak sedang berkendara, dan kondisi ketika kita sedang berkendara. Continue reading “Skenario 9 Selama di Tiongkok/Cina: Di Jalan-jalan”
Skenario 10 Selama di Tiongkok/Cina: Di Toilet Umum
Untuk sebagian kita, kebersihan toilet merupakan hal yang penting untuk diperhatikan ketika sedang berada di luar kota maupun berkunjung ke luar negeri. Namun aku pribadi tidak mengambil pusing mengenai kebersihan toilet ketika pergi ke tempat-tempat yang kita anggap asing. Aku pribadi pikir bahwa “standar” mengenai kebersihan yang kita miliki belum tentu dimiliki oleh orang lain. Namun ketika kita memang sudah meniatkan untuk menjelajah daerah-daerah lain, kebersihan toilet tidak menjadi tujuan, namun tetap kepada tujuan utama kita bepergian yaitu memperluas wawasan kita akan sesuatu yang baru. Continue reading “Skenario 10 Selama di Tiongkok/Cina: Di Toilet Umum”
Skenario 11 Selama di Tiongkok/Cina: Mengenai Agama dan Tempat Ibadah
Di Tiongkok sendiri sepengalamanku mereka tidak mengidentifikasi agama sebagai sesuatu yang penting dan merupakan bagian dari kehidupan mereka secara umum. Dengan tidak adanya data mengenai status pemeluk agama-agama, aku pribadi juga hanya dapat mengira-ngira berapa banyak populasi pemeluk agama yang ada di Tiongkok. Ketika kita berbicara data dan populasi pemeluk agama, kita akan mendapatkan data yang berbeda-beda, sehingga tergantung dari preferensi masing-masing menginterpretasikan data-data yang ada tadi. Continue reading “Skenario 11 Selama di Tiongkok/Cina: Mengenai Agama dan Tempat Ibadah”
Skenario 12 Selama di Tiongkok/Cina: Di Museum atau Perpustakaan
Tiongkok merupakan negara yang terdiri dari suku-suku bangsa yang peradabannya telah eksis sejak lebih dari 3 ribu tahun yang lalu. Dengan begitu banyak sekali peninggalan-peninggalan yang berupa benda-benda dan kisah-kisah yang mereka harus jaga dan lestarikan guna diketahui dan dipahami oleh generasi penerus. Keberadaan museum-museum di kota-kota di Tiongkok menunjukkan betapa penjagaan terhadap nilai-nilai sejarah di setiap pengetahuan masyarakat senantiasa dijaga. Tidak hanya kota-kota dengan ukuran besar, namun nyaris semua kota dengan karakteristik urban memiliki museum di dalamnya. Continue reading “Skenario 12 Selama di Tiongkok/Cina: Di Museum atau Perpustakaan”
Persepsi Orang Tiongkok Mengenai Interaksi Umum
Hal-hal yang aku akan coba deskripsikan di bagian ini tidak termasuk didalamnya hal-hal yang berkenaan dengan pekerjaan dan karir. Aku juga sudah coba untuk menuliskan deskripsi mengenai pekerjaan dan karir di segmen lain. Continue reading “Persepsi Orang Tiongkok Mengenai Interaksi Umum”
Persepsi Orang Tiongkok Mengenai Mengatasi Konflik atau Perselisihan
Di dalam kumulasi interaksi antarmanusia yang apalagi memiliki perbedaan budaya, potensi-potensi konflik maupun perselisihan pasti akan terjadi. Umumnya hal-hal yang berkenaan dengan kondisi yang tidak baik ini lebih dikarenakan masalah efektifitas berkomunikasi. Namun memang ada beberapa hal yang perlu kita cermati dalam mengelola potensi-potensi kesalahpahaman, perselisihan bahkan konflik dengan orang Tiongkok. Continue reading “Persepsi Orang Tiongkok Mengenai Mengatasi Konflik atau Perselisihan”
Persepsi Orang Tiongkok Mengenai Cinta dan Asmara
Menyangkut hal yang satu ini akan coba aku deskripsikan sesuai dengan apa yang aku ketahui. Banyaknya ragam jenis manusia yang memiliki latar belakang suku, pendidikan, keyakinan, dan pengalaman-pengalaman lain membuat orang-orang Tiongkok tidak memiliki “standar” yang sama untuk urusan cinta dan asmara. Namun memang ada beberapa hal dasar yang sudah turun temurun diwariskan oleh masyarakat Tiongkok mengenai konteks ini. Continue reading “Persepsi Orang Tiongkok Mengenai Cinta dan Asmara”